Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Islam dan Masyarakat Betawi: Tradisi Pembacaan Ratib Samman dan Manaqib Syekh Samman di Kalangan Masyarakat Betawi (Bagian 1)

Gus Imad

Jakarta, Dakwah NU
Awal mula penyebaran Islam di Betawi, menurut budayawan Ridwan Saidi, bisa dilacak dari berdirinya Pesantren Quro di Karawang pada 1418. Syekh Quro, yang bernama asli Syekh Hasanuddin, berasal dari Kamboja. Awalnya, kedatangan Syekh Qura ke Jawa adalah untuk berdakwah di Jawa Timur, akan tetapi ketika singgah di pelabuhan Karawang, Beliau tidak jadi meneruskan perjalanannya ke timur. Disana, ia menikah dengan seorang gadis Karawang, dan membangun pesantren di Quro.

Di kemudian hari, seorang murid Syekh Qura, bernama Nyai Subang Larang, dinikahi oleh Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Dari pernikahan ini lahirlah Kian Santang dan Rara Santang yang kelak menjadi penyebar Islam di Sekitar Jawa Barat, Betawi, dan Banten. Banyak warga Betawi yang menjadi pengikutnya.

Berawal dari Syekh Qura, kemudian Islam semakin tersebar di tanah Betawi. Bahkan, orang betawi identik dengan agama Islam, hal ini berdasarkan sebutan sebutan Orang Selam untuk masyarakat Betawi. R. A. Sastradama, seorang turis lokal dari Surakarta yang berkunjung ke Batavia tahun 1870 menuturkan bahwa pendudukan kota itu umumnya menyebut diri orang Selam. Istilah Selam adalah pengucapan lokal untuk kata Islam. Dan sebutan ini adalah pembeda orang Betawi dari kelompok etnis lain.

Islam dan Betawi ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Islam telah tertanam dalam kehidupan dan interaksi warga Betawi sejak lama. Almarhum KH Ahmad Luthfi Fathullah, ulama asli Betawi dan cucu Guru Mughni Kuningan, salah satu ulama besar Betawi abad 20 menyatakan bahwa Islam di Betawi merupakan sebuah budaya yang dibangun turun-menurun. Ini terbukti dari banyaknya tulisan, penelitian, serta realitas di lapangan.

Bagi Kiai Luthfi, Islam dan Betawi sudah menyatu bagai budaya dan tradisi. Saking lekatnya, ia menyebut, banyak anak Betawi dahulu yang lebih diajarkan mengaji dibandingkan sekolah. Kiai Luthfi sendiri lebih dahulu mengenal hijaiyah dibanding huruf Latin. Tak hanya itu, anak-anak Betawi juga dikenalkan dengan kitab Sifat 20 yang isinya tentang akidah Islam.

Islam di Betawi merupakan budaya yang datang dari turunan keluarga. Sejak kecil, mereka sudah dibekali dengan ilmu pengetahuan agama yang baik dan jelas. Setiap anak di keluarga Betawi diharuskan belajar mengaji dan agama lewat kitab-kitab yang ada. Diawali dengan kitab Sifat 20, berlanjut ke kitab rawi atau sejarah sirah Nabi Muhammad SAW. “Masyarakat Betawi memiliki kultur agama yang kuat. Salah satunya tidak ada orang Betawi yang tidak Maulidan. Orang Betawi tidak ada yang tidak tahu rawian atau sejarah Nabi Muhammad SAW”, demikian ujar Kiyai Lutfi, dalam wawancara dengan. republika.co.id pada 2019 silam.

Apa yang dikatakan Almarhum Kiyai Lutfi benar. Hingga kini, masyarakat Betawi masih menjalankan tradisi-tradisi keagamaan khas ahlussnunah wal jama’ah. Meski didera oleh laju perkembangan modernisasi kota metropolitan Jakarta, mereka tetap kukuh berpegang pada tradisinya yang notabene adalah Ahlussunnah Waljamaah. Tradisi ini mereka warisi dari para ulama yang belajar ke Mekah, yang kemudian, setelah kembali, menghasilkan sejumlah kantong-kantong pendidikan dan dakwah di lingkungan kebudayaan Betawi.

Tradisi Pembacaan Ratib Samman dan Manaqib Syekh Samman
Salah satu tradisi, bahkan telah menjadi ciri khas Masyarakat Betawi hingga kini, adalah tradisi pembacaan Ratib Samman dan Manaqib Syekh Samman. Ratib Samman dan Manaqib Syekh Samman memiliki kaitan erat dengan tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Syekh Muhammad Samman Al Madani. Ratib Samman adalah susunan wirid yang ditulis oleh Syekh Samman, seperti halnya Ratib Al Haddad dan Ratib Al Aththas yang sudah popular. Sedangkan manaqib adalah perjalanan hidup seorang wali atau orang saleh, karamah-karamahnya, dan ajaran-jarannya, dalam hal ini adalah Syekh Muhammad Samman.

Seperti halnya tradisi pembacaan Manaqib Syekh Abdul Qadir Jailani oleh masyarakat pesisir Jawa, pembacaan Manaqib syekh Samman dan Ratib Samman telah mentradisi di kalangan masyarakat Betawi sejak dahulu, bahkan telah menjadi ciri khas masyarakat Betawi. Cerita orang-orang tua dahulu setiap ada nadzar atau kaulan orang betawi selalu membaca Manaqib Syekh Samman. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, entah apa sebabnya, tradisi ini saat ini sudah semakin hilang, hanya tersisa beberapa tempat saja di Jakarta yang masih menjalankannya.

Balitbang Kementerian Agama Povinsi DKI Jakarta pada tahun 2020 pernah melakukan penelitian tentang beberapa tempat di Jakarta yang masih menjalankan tradisi pembacaan Ratib Samman dan Manaqib Syekh Samman. Beberapa lokasinya antara lain: Masjid Jami Baitul Mughni, Makam Guru Mughni, di Kuningan Jakarta Selatan, dan Masjid Jami’ Batu Ceper yang beralamat di Jl. Batu Ceper 2 No. 4 RT. 10/01 Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat.

Awal Mula Masuknya Tarekat Sammaniyah di Betawi
Tarekat Sammaniyah didirikan oleh Syekh Muhammad ibn Abdul Karim al-Samman, seorang guru tarekat kenamaan di Madinah. Syekh Muhammad Samman pada tahun 1130 H/1718 M dan wafat pada 1189 H/1775 M. Beliau masih termasuk keturunan Rasulullah saw dari jalur Sayidina Hasan bin Ali ra. Beliau sepanjang hidupnya menetap di Madinah. Mulanya, ia mengikuti tarekat Qadiriyah. Ia menerima tarekat Qadiriyah dari seorang Mursyid tarekat Qadiriyah bernama Syekh Muhammad Tahir. Selain itu, ayahnya juga penganut tarekat tersebut.

Martin van Bruinessen menyebut, Syekh Muhammad samman bukan hanya ahli di bidang Tasawuf, akan tetapi juga ahli dalam ilmu-ilmu Islam lainnya. Guru-gurunya antara lain: Muhammad al-Daqaq, Sayyid Ali al-Athar, Ali al-Kurdi, Abdul Wahhab al-Thantawi dan Sa’id Hilal al-Makki; yang kelimanya merupakan ulama fiqh terkenal
Sebelum mendirikan tarekat sendiri, Syekh Samman juga mempelajari dan mendalami berbagai tarekat kepada guru-guru terbesar di zamannya.

Beberapa inti ajaran Syekh Muhammad Samman sebagaimana tertulis dalam manaqibnya antara lain:
1. Memperbanyak shalat dan dzikir
2. Berlemah lembut kepada fakir miskin
3. Menjauhkan diri dari hal-hal yang bersifat duniawi
4. Menggantikan akal basyariyah dengan akal robbaniyah
5. Tauhid kepada Allah dalam dzat, sifat dan af’al-Nya
6. Membiasakan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw empat kali seusai shalat subuh

Asal usulnya masuknya Tarekat Sammaniyah ke Betawi bermula pada tahun 1186 H/1773 M, saat empat serangkai ulama Nusantara yakni Syekh Abdurrahman al-Batawi bersama Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari, Syekh Abdul Shamad Al Falimbani, dan Syekh Abdul Wahab al-Bugisi adalah murid langsung Syekh Muhammad Samman berguru ke Tanah Suci Mekkah. Keempat ulama Nusantara ini berguru langsung kepada Syekh Muhammad Samman dan sekaligus menerima Tarekat Sammaniyah. Sekembalinya ke Nusantara, keempatnya memperkenalkan tarekat Sammaniyah kepada masyarakat Betawi asli yang saat itu dominan di Jakarta.

Di Jakarta Selatan, Kuningan, ulama yang paling terkemuka saat itu adalah KH. Abdul Mughni (1860-1935 M), yang merupakan salah satu orang Betawi hasil didikan Timur Tengah. Sepulangnya ke Tanah Air, ia menyebarkan ilmu-ilmu yang diperolehnya di Mekkah, yakni Ratib Samman dan Syair Burdah, dan mengajarkannya kepada murid-muridnya yang datang dari seluruh pelosok Jakarta. Maka, berdasarkan penelitian Lina Halimah, bahwa tokoh yang paling berperan besar dalam penyebaran tarekat Sammaniyah dan ajaran-ajarannya di kalangan Masyarakat Betawi ialah Syekh Abdurrahman al-Batawi dan KH. Abdul Mughni.

Daftar Rujukan:
1. Abdul Aziz, Islam dan Masyarakat Betawi. Jakarta: Logos, 2002.
2. blajakarta.kemenag.go.id
3. republika.co.id
4. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat. Bandung: Mizan. 1995.
5. Rahmat Zailani Kiki, Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta: 2011

Oleh: Kyai M. Imaduddin (Gus Imad)
Penulis adalah Direktur Pendidikan Dai Penggerak Nahdlatul Ulama (PDP-NU) dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here