Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Instruksi PJ Rais Aam Mubazir dan Mencederai Asas Demokrasi di NU, Untuk Siapa?

Jakarta, Dakwah NU
Terbitnya surat instruksi Nomor 4272 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang ditandatangani oleh Pejabat Rais Aam PBNU terkait pelaksanaan Muktamar ke 34 NU di Lampung dinilai mubazir dan sangat tidak sesuai dengan AD/ART Organisasi Nahdlatul Ulama.

Hal ini disampaikan oleh Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi DKI Jakarta, KH Muzakki Kholis. Ia menyampaikan bahwa instruksi semacam itu dapat memecah belah persatuan sesama pengurus NU baik di tingkat pusat maupun daerah.

“Surat dari PJ Rois Aam itu mubazir, ini bukan hanya menurut saya, namun juga para wakil katib dan jajaran syuriyah yang lain, bahwa surat ini ga layak dan sungguh tidak elok jika beliau menyampaikan perihal itu,” kata Kiai Cholis dalam keterangan yang diterima Dakwah NU, Jum’at (26/11).

Menurutnya kejadian yang sedang terjadi seolah Syuriyah sudah tidak lagi percaya bahwa tata kelola organisasi di NU itu dilakukan oleh jajaran Tanfidziyah.

“Nah, kepanitiaankan sesungguhnya sudah melaksanakan tugasnya dengan baik. Ini semacam intervensi, tanpa mengajak Ketua Umum Tanfidziyah selaku mandatori sah Muktamar sebelumnya di Jombang. Nanti jadi mubazir dan terkesan tidak taat pada aturan organisasi,” ujarnya.

Pihaknya menilai kejadian saat ini sebagai sebuah dinamika, Kiai Kholis berharap Pelaksanaan Muktamar nanti dapat berjalan dengan khidmat dan menjadi Muktamar yang berkualitas dan bermartabat. Menahan diri dan tidak terprovolaso menjadi keharusan semua pihak. 

“Semua pihak juga harus kembali pada cita-cita luhur para pendiri NU yakni menegakkan ayat-ayat Allah melalui Jam’iyyah NU, bukan malah menjadikan NU sebagai ajang konflik kepentingan,” pungkas Kiai Kholis (*)

Spread the love

Comment here