Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Opini

Iktikaf Kesadaran, Transformasi Kepemimpinan Digital dan Humanis

Hamdan Suhaemi

Banten, Dakwah NU
Kesadaran Syari’at
Bahasan iktikaf selalu berkaitan dengan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Ia adalah proses permenungan ruhaniyah dengan Tuhannya, yang secara syariat dilakukan harus di masjid dan meninggalkan sementara berkumpul dengan istri (jima’), dan dianjurkan dalam beriktikaf itu dengan sholat, dzikir, tadarrus Al-Qur’an, dan riyadah muroqobah  berusaha mendekat kepada Allah).

Iktikaf, dengan ketulusan dan kesungguhan adalah nilai utama dalam beriktikaf (اعتكاف), ini secara fiqih dihukumi Sunnah, tapi wajib dilakukan di masjid. Tentunya dalam iktikaf perlu kesadaran kontemplasi teologis. Karena ini juga adalah tujuan beriktikaf.

Kesadaran Transendental
Dalam iktikaf, bagi kalangan sufi adalah medium untuk ” bercumbu ” dengan bisath-nya mahabbah Tuhan. Pendalaman reflektif dari iktikaf harus terus meningkat pada tingkatan membedah lengkungan metafisika yang sangat luas, dan manis.

Kesadaran ini, kemudian diterjemahkan dengan tindakan-tindakan sufistik yang selalu menguatkan nilai-nilai kemanusiaan, tanpa dibatasi klaim struktur agama dan klaim kebenaran sendiri. Membawa ke arah keluasan makna kemanusiaan dan spritualitas yang dinikmati. Substansi ajaran agama Islam sebenarnya akan tetap bersandar pada maqoshid al-syar’i ( tujuan bersyari’at ).

Kesadaran Kepemimpinan Digital
Dunia, hari ini adalah dunia tanpa jarak dan waktu ( sein und zeit ). Semua bisa dilakukan dengan cara digitalisasi tindakan dan sikap, semua berbasis online. Satu hal ini akan menduhumanisasi kemanusiaan kita sebagai manusia sosial ( Zoon Politicon ), dan bisa menghilangkan kehangatan sense pribadi manusia.

Ini, adalah fenomena mutakhir ketika dunia memasuki milenium ketiga, teknologi IT semakin dinamis dan super canggih. Memang Charles Darwin, dengan teori evolusinya agaknya menang sebagai yang tepat dan benar. Suatu bentuk apapun akan selalu eksis dalam bentangan zaman jika mengikuti zamanya. dan jika anti tesa terhadap zaman yang berkembang, maka dengan sendirinya terkalahkan. Kita memang perlu mensintesiskan dialektika kehidupan post-sekularisme ini dengan ikut zaman tapi tidak menjahui nilai kemanusiaan an sich.

Kalimat akhir, kita adalah anak zaman yang tengah dijamu oleh peradaban manusia yang tidak paralel dalam ritme kemajuan dan humanitas.

Penulis:
Kyai Hamdan Suhaemi
Wakil ketua PW GP Ansor Banten
Ketua PW Rijalul Ansor Banten

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here