Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

ArtikelSyiar Islam

Ikhtilaful ‘Ulama Tentang Hukum Mengucapkan Selamat Hari Natal

Mataram, Dakwah NU
Setiap tahun kita semua umat beragama khususnya umat islam dihadapkan pada persoalan lama yaitu boleh tidaknya mengucapkan selamat hari natal atau perayaan natal bagi umat kristiani yang sedangn melaksanakan perayaan natal setiap tanggal 25 Desember.

Sehubungan topik ini, Ketua Lembaga Dakwah PWNU Nusa Tenggara Barat,KH. Agus Gustiwang Saputra memaparkan persoalan rutinan tersebut. Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Pertama, Tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan keharaman atau kebolehan mengucapkan Selamat Natal. Padahal saat itu Nabi SAW dan para Sahabat ra hidup berdampingan dengan orang Yahudi dan Nasrani.

Kedua, Karena tidak ada ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi yang secara jelas dan tegas menerangkan hukumnya, maka masalah ini masuk dalam kategori ijtihadiyyah yang berlaku qaidah :

لَا يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ، وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ

“Masalah yang masih diperselisihkan (keharamannya) tidak boleh diingkari, tapi harus mengingkari masalah yang (keharamannya) telah disepakati.” (Imam Jalâluddîn al-Suyûthî, al-Asybâh wa al-Nadhâ’ir, Beirut: Darul Kutub al-‘Ilmiyah, 1990, hlm 158)

Ketiga, dengan demikian, baik ulama yang mengharamkannya maupun membolehkannya, sama-sama hanya berpegangan pada keumuman ayat atau hadits yang mereka sinyalir terkait dengan hukum permasalahan ini. Karenanya, mereka berbeda pendapat.

Ulama Yang Mengharamkan
Ulama-ulama yang mengharakna mengucapkan selamat hari natal diantaranya adalah, Syekh Bin Bazz, Syekh Ibnu Utsaimin, Syekh Ibrahim bin Ja’far, Syekh Ja’far At-Thalhawi dan sebagainya. Mereka menggunakan dalil Al Qur’an Surat Al Fuqan Ayat 72 yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ لَا يَشْهَدُوْنَ الزُّوْرَۙ وَاِذَا مَرُّوْا بِاللَّغْوِ مَرُّوْا كِرَامًا

Dan orang-orang yang tidak memberikan kesaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya

Pada ayat ini Allah SWT menyebutkan ciri orang yang akan mendapat martabat yang tinggi di surga, yaitu orang yang tidak memberikan kesaksian palsu. Sedang seorang Muslim yang mengucapkan selamat Natal berarti dia telah memberikan kesaksian palsu dan membenarkan keyakinan umat Kristiani tentang hari Natal.

Mereka juga menggunakan hadits dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031)

Orang Islam yang mengucapkan selamat Natal berarti menyerupai tradisi kaum Kristiani, maka ia dianggap bagian dari mereka. Dengan demikian, hukum ucapan dimaksud adalah haram.

Pandangan ini sejalan dengan Ibnu Taimiyyah (w. 1328) dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah (w. 1350). Menurut mereka:

“Pengucapan Selamat Natal dianggap sebagai bentuk persetujuan atau mengamini secara diam-diam terhadap keimanan umat Kristen”.

Selanjutanya 1 2 Kembali

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here