Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Hukum Ciuman dan Menyentuh Kemaluan Pasangan Saat Puasa

Bondowoso, Dakwah NU
Puasa pada dasarnya bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Namun juga melatih mengendalikan hawa nafsu. Sehingga bisa meraih derajat ketakwaan.

Kendati demikian, masih terjadi beberapa fenomena umum. Yakni sepasang suami-istri berduaan di siang hari hingga hampir melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

Bagaimana syariat menghukumi hal tersebut? Menurut Ustaz Luthfi Khoiron, pendakwah di Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LD PBNU), berdasarkan pandangan Mazhab Syafi’i, hukum puasa menyentuh kemaluan suami-istri tidak batal.

Sebab standar Mazhab Syafi’i adalah inzalul mani atau keluarnya sperma secara sengaja. Entah karena berhubungan badan atau dengan cara lain di siang hari.

“Selama tidak keluar mani, maka tidak batal. Bahkan jika sampai keluar cairan lubrikasi (madzi -red), maka tetap tidak batal. Itu pandangan Mazhab Syafi’i,” ujar Ustaz Luthfi Khoiron dikutip Narasinews.id, Senin (4/4/2022).

Berbeda dengan padangan Mazhab Maliki. Ditegaskan bahwa seseorang yang mencium istrinya kemudian ereksi, maka puasanya dianggap batal dan wajib qadla (mengganti puasa -red).

Pendapat ini sama dengan Mazhab Hambali. Keterangan atau dalil tersebut, kata Ustaz Luthfi, bisa dilihat pada kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah (Ensiklopedi Fikih Kuwait -red) dan kitab al-jami’ li Ahkam as-Shiyam.

Ustaz Luthfi
Ustaz Luthfi memaparkan tentang argumentasi Mazhab Hambali dan Maliki yang memiliki kesamaan dalam menghukumi suami atau istri bermesraan saat puasa. Di mana keluarnya cairan lubrikasi (berupa madzi -red) adalah runutan ‘pendahuluan’ keluarnya sperma.

“Oleh karena itu, keluar madzi dianggap membatalkan puasa. Sebab umumnya orang bersyahwat, keluar cairan madzi lalu mani. Itu lah alasannya Mazhab Hambali dan Maliki menghukumi batal,” tambahnya.

Bagaimana dengan ciuman suami-isteri saat berpuasa? Ustaz Luthfi berpendapat bahwa dalam pandangan ulama, hal itu dapat mengurangi pahala puasa. Karena ‘melanggar’ esensi dan tujuan puasa. Yakni mengendalikan diri.

Namun, kata dia, beberapa sahabat Nabi Muhammad SAW memperbolehkan suami mencium istri. Di antaranya adalah Abu Hurairah, Saad Bin Abi Waqas dan beberapa sahabat lainnya.

Lalu bagaimana hukumnya ketika suami atau isteri berciuman dan salah satu dari mereka menelan ludah yang lain?

Ustaz Luthfi menjawab, jika hal demikian terjadi, konsensus ulama sepakat menghukumi batal puasa. Sebab masuknya segala sesuatu, padat atau cair ke dalam rongga itu membatalkan puasa.

Lantas halal atau haramkah seorang suami melakukan rayuan yang menyebabkan saling menyentuh kamaluan?

Ustaz Luthfi mengungkapkan, bahwa para ulama menyebutkan, apabila dia mampu menguasai diri untuk tidak melakukan hubungan yang menyebabkan batalnya puasa, seperti orgasme, maka dihukumi boleh. Tapi jika tidak akan mampu menahan diri, maka hukumnya haram.

“Maka sebaiknya dalam melaksanakan puasa, hendaklah menahan segala sesuatu. Baik ucapan yang kotor, padangan yang haram, dan perbuatan yang mengadung syahwat. Tidak perlu bicara pahala puasa. Sebab pahala adalah hak preogratif Allah SWT. Cukuplah kita perbaiki niat dan amalan puasa ini. Dengan cara menjauhi diri dari hal-hal yang membatalkan,” pungkasnya

Spread the love

Comment here