Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Hikmah

Hikmah Puasa Ramadan di Masa Pandemi Menuju Indonesia Maju

Jakarta, Dakwah NU

Ramadan adalah satu-satunya nama bulan yang diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al-Qur’an. Bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman bagi umat Islam. Bulan Ramadan merupakan bulan yang penuh berkah dan penuh ampunan. Ramadan menjadi berkah karena enam keutamaan, yaitu bulan diturunkannya AlQur’an, puasa di siang hari, shalat tarawih di malam hari malam lailatul qadr (malam penentuan bagi hidup seseorang), pelaksanaan zakat fitrah, dan hari raya Idul Fitri.

Keistimewaan pada bulan ini membuat umat Islam bergembira dan bersuka cita dalam menyambutnya. Namun, kegembiraan yang dirasakan oleh umat Islam sepertinya juga diiringi dengan kesedihan karena hadirnya wabah Covid-19 yang tidak di inginkan dan bahkan sudah dua kali Ramadan.

Dengan demikian apabila kita bersabar di bulan Ramadan sekarang ini, maka kita jangan pernah khawatir. Sebab, Allah selalu bersama kita dan Allah juga yangakan menolong orang-orang yang berpuasa. Allah Swt juga berfirman di dalam QS. Az-Zumar ayat 10:

قُلۡ يٰعِبَادِ الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوۡا رَبَّكُمۡ‌ ؕ لِلَّذِيۡنَ اَحۡسَنُوۡا فِىۡ هٰذِهِ الدُّنۡيَا حَسَنَةٌ ‌ ؕ وَاَرۡضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ‌ ؕ اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوۡنَ اَجۡرَهُمۡ بِغَيۡرِحِسَابٍ

Artinya: Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu.”

Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Hadirnya Bulan Ramadan merupakan momentum introspeksi dan muhasabah diri bagi seorang Muslim. Ibarat kandaraan bermotor, puasa merupakan saatnya ‘turun mesin’ untuk meneliti dan memeriksa sekaligus memperbaiki berbagai onderdil yang rusak. Ibarat komputer, puasa merupakan proses me-restart diri. Restart dapat diartikan sebagai proses memulai kembali yang sebelumnya dimatikan beberapa saat. Proses restart diri sangat penting. Metode restart bisa disebut sebagai langkah
mengintegrasikan antara software (rohani) dan hardware (jasmani) agar dapat terkoneksi secara baik dan holistik.

Sebagai ibadah yang disyariatkan oleh Allah SWT dengan kaifiyah atau tata cara tertentu, puasa punya tiga dimensi penting.
1. Dimensi ritual formal (fisik). Di sini puasa dimaknai sebagai ritual mencegah dari segala sesuatu yang membatalkan (makan, minum, bersetubuh).
2. Dimensi ritual spiritual (rohaniah). Artinya, puasa sebagai ritual menjauhkan diri dari segala sifat buruk dan sesuatu yang diikuti nafsu.
3. Dimensi ritual intelektual. Artinya, dengan berpuasa, kita akan semakin tahu siapa sebenarnya diri kita.

وَفِىٓ أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Artinya: dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS Al-Dzariyat: 21).

Dengan kata lain, puasa bukan sekadar ratus tahunan yang berisi ritual peribadatan. Namun, puasa menghadirkan ruang untuk merenung dan berkontemplasi. Merekap dan merekam pelajaran apa saja yang dapat kita petik selama setahun. Ibarat survei ataupun penelitian, ini merupakan model survei paling akurat dan presisi karena didasarkan bukan hanya pada pengamatan, tetapi atas dasar semua hal yang dialami dengan semua pancaindera.

Restart kebangsaan Tentu tak sekadar berfungsi untuk me-restart diri, puasa kali ini bisa menjadi momentum untuk restart kebangsaan. Pasalnya, bulan Ramadan kali ini berbarengan dengan mewabahnya virus corona yang menjadi sebab penyakit Covid-19.

Sejak pertama kali muncul pada Desember 2019 lalu di Wuhan, China, hingga sekarang, jumlah orang yang positif terjangkit Covid-19 di seluruh dunia sudah menembus angka Kasus 149 juta lebih. Sedangkan di Indonesia yang positif hampir menembus angka Kasus 1,65 juta per 29 April 2021. Covid-19 pun mengubah langkah aktivitas kehidupan manusia secara radikal. Hampir semua aktivitas; bekerja, belajar, berdakwah, berdagang, bahkan berpolitik, dilakukan secara daring atau virtual. Kini
manusia dalam posisi yang sama.

Jika ibadah puasa mampu menghadirkan spirit egalitarisme di kalangan umat Islam di seluruh dunia, di mana semuanya menjalankan perintah yang sama dari Allah SWT (tak peduli warna kulit ataupun derajat sosial seseorang), maka hal sama terjadi saat wabah Covid-19 melanda.

Pandemi memastikan hal tersebut tidak pandang bulu, siapapun orangnya (kaya atau miskin, muda ataupun tua, dan sebagainya) bisa tertular Covid-19.

Oleh karena itu, ibadah puasa di tengah wabah Covid-19 menjadi alat merestart diri manusia agar merenung dan mengingat kembali kekuasaan Allah SWT. Sehebat apapun manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan.

Selain itu, kita berharap puasa di tengah pandemi tidak hanya mampu menumbuhkan kesolehan spiritual seseorang, namun juga kesolehan sosial. Wujud dari kesolehan sosial ialah sikap empati dan pro-sosial. Empati berarti suatu keadaan di mana orang merasa dirinya berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Sementara pro-sosial merupakan tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan.

Sebagai musibah kemanusiaan, wabah Covid-19 bukan saja persoalan kesehatan, namun punya ekses turunan berupa dampak sosial ekonomi. Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hingga 31 Juli 2020, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta lebih. Sementara Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
memproyeksikan, seiring dengan meluasnya wabah Covid-19, maka tingkat kemiskinan di Indonesia juga makin bertambah. Sebagai contoh, saat ini saja ada sebanyak 115 juta masyarakat rentan miskin di Tanah Air.

Dengan adanya musibah Covid-19, golongan tersebut rentan sekali jatuh ke bawah garis kemiskinan. Sehingga proyeksi penduduk miskin per-September 2020 akan berada di kisaran 26-26,5 juta jiwa. Karena itu, umat Islam sebagai mayoritas penduduk di Tanah Air (jumlahnya 89 persen menurut data survei lembaga Arus Survei Indonesia, April 2019) harus mampu menjadikan bulan puasa di tengah
pandemi ini sebagai momentum me-restart kesadaran untuk berbagi dan peduli dengan sesama.

Inilah pribadi seorang Muslim yang digambarkan dalam sebuah Hadits Rasulullah SAW:

عَجَباً لأمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَلِكَ لأِحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِن: إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خيْراً لَهُ

Artinya: “sangat menakjubkan urusan orang beriman, semua urusannya merupakan kebaikan. Hal tersebut tidak dimiliki siapa pun kecuali hanya dimiliki oleh orang beriman. Apabila orang beriman mendapatkan kenikmatan, dia bersyukur, dan itu menjadi kebaikan baginya. Jika ia tertimpa musibah, dia bersabar. Dan itu juga menjadi kebaikan baginya” (HR Muslim: 7692).

Pendidikan Ramadan inilah yang menghasilkan kesholehan sosial, menjelma menjadi kesadaran untuk berbagi dan peduli dengan sesama. Tidak berpikir untuk selamat sendiri, tetapi selamat bersama-sama. Kalau bersama-sama, pasti kuat, seperti sapu lidi. Kalau satu lidinya, hanya cocok untuk tusuk satai. Namun, kalau kita melakukan pembersihan, bersatu, dia akan menjadi lebih kuat. Kita berangkat dengan filosofi yang sama. Inilah yang kekuatan terbesar menuju Indonesia Maju.

Oleh:
Dr. Samsul Ma’arif, MA
Ketua PWNU DKI Jakarta

Spread the love

Comment here