Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Hijrah dari Intoleransi

Lembaga Dakwah PBNU

Hijrah dari Intoleransi
Oleh: Ma’muri Santoso

Tidak lama lagi kita akan memasuki tahun baru 1442 Hijriyah. Sebuah momentum penting untuk menengok kembali spirit dan pesan hijrah Rasulullah Saw hampir 15 abad silam. Proses perpindahan Nabi dari Makkah menuju Madinah.
Hijrah tidak saja dimaknai sebagai perpindahan secara fisik, seperti berpindah dari satu tempat ke tempat lain, melainkan hijrah merupakan perpindahan dalam makna yang lebih substansial. Dalam konteks bernegara, hijrah dimaknai sebagai perubahan perilaku menuju masyarakat madani. Masyarakat yang mampu menjauhkan diri dari sikap intoleran menuju masyarakat yang toleran, rukun dalam perbedaan dan bersatu dalam suasana kemajemukan.

Konsep hijrah juga dapat dimaknai sebagai penerimaan terhadap kelompok yang berbeda, baik suku, adat istiadat, budaya, maupun agama demi membangun sebuah perdamaian sebagaimana diteladankan oleh Rasulullah Saw saat menyatukan kaum Ansor dan Muhajirin di Madinah. Sebuah kesadaran bersama bahwa perbedaan yang ada merupakan sebuah fakta kehidupan.

Sesampainya di Madinah yang dilakukan Rasulullah adalah membangun persaudaraan antar suku melalui Piagam Madinah. Konstitusi Madinah merupakan sebuah dokumen yang disusun Nabi Muhammad Saw yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku dan kaum-kaum penting di Yatsrib. Dari sini kemudian terbangun satu komunitas baru yang disebut dengan masyarakat Madinah atau masyarakat yang berkeadaban. Sebuah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai etik untuk dapat hidup bersama di tengah berbagai perbedaan yang ada.

Di tengah kondisi bangsa ini yang masih dihadapkan pada persoalan bersama warga bangsa di dunia yakni pandemi Covid-19, kita juga diuji dengan munculnya kembali sikap-sikap intoleran dari sekelompok masyarakat. Kasus kekerasan sebagai buah dari intoleransi yang terjadi di Solo beberapa waktu lalu tentu merupakan sikap yang dapat menciderai semangat persatuan. Sikap intoleran yang dilakukan oleh kelompok manapun perlu segera diakhiri. Apalagi tindakan kekerasan dengan menggunakan simbol maupun dalih ajaran agama. Hal ini dirasa penting untuk kembali merajut Indonesia sebagai bangsa yang harmoni dan kondusif dalam kemajemukan.

Indonesia merupakan bangsa pelangi dengan berbagai kemajemukan yang ada di dalamnya. Setiap anak bangsa mesti menjaganya agar suasana harmoni selalu terjalin. Setiap perbedaan yang ada seperti suku, ras, agama, adat istiadat serta budayanya justru menunjukkan bahwa bangsa ini indah dalam bingkai kemajemukan. Tidak boleh ada lagi kelompok masyarakat memaksakan kehendak serta mengganggu golongan yang lain hanya karena faktor perbedaan tersebut.

Hijrah dari sikap intoleran perlu terus digalakkan. Tujuannya agar aset kita yang tidak ternilai harganya sebagai bangsa berupa persaudaraan dan persatuan dapat terus terjaga dengan baik dan tidak mengalami perpecahan. Dengan demikian maka benih-benih konflik satu sama lain dapat dipupus guna merajut kembali Indonesia sebagai bangsa pelangi. Bangsa yang mesti hidup berdampingan satu sama lain dalam suasana yang harmoni dan selalu menjunjung tinggi semangat toleransi.

Agama seringkali disinyalir menjadi faktor pendorong munculnya konflik sosial. Padahal konflik yang sering terjadi sebenarnya tidak selalu murni disebabkan oleh faktor agama melainkan bisa disebabkan faktor lain di luar agama seperti persoalan politik, ekonomi maupun sosial.

Kalaupun ada faktor agama yang mendorong seseorang untuk berkonflik, hal itu lebih disebabkan oleh fanatisme buta dalam beragama seperti pemahaman agama yang menganggap dirinya paling benar sedangkan kelompok di luar mereka selalu salah. Apalagi jika hal ini disertai dengan sikap menutup diri untuk berdialog dan cenderung menolak pandangan lain dari luar yang terkadang justru bersifat positif dan membangun.

Secara historis, agama lahir justru untuk memanusiakan manusia, mengembalikan posisi manusia pada derajat yang mulia, membebaskan manusia dari kebodohan maupun perilaku-perilaku umat manusia yang negatif seperti menindas sesamanya. Dengan kata lain, setiap agama dengan para nabinya diutus untuk mengangkat derajat manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri.

Nilai-nilai luhur setiap agama sejatinya melarang konflik maupun sikap yang mengarah pada perpecahan. Konflik hanya akan menyisakan kesengsaraan, terhambatnya peran mulia kekhalifahan manusia untuk memakmurkan bumi serta terhentinya upaya manusia dalam memajukan peradaban di muka bumi ini.

Ma’muri Santoso, Dai Instruktur Nasional Jatman, alumnus Program Standardisasi Kompetensi Dai Lembaga Dakwah PBNU.

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here