Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Hewan yang Halal dan Haram Dikonsumsi

Jakarta, Dakwah NU
Sumber hukum islam terdiri dari empat pilar, yakni Alquran, hadits, ijma’, dan qiyas. Alquran adalah sumber pedoman hidup manusia yang sifatnya mujmal atau global. Hukum, kaidah, dan segala ketentuan syariat yang terdapat dalam alquran masih bersifat umum. Penjelasan lebih terperinci dan mendetail terdapat dalam hadits, ijma’, dan qiyas. Begitu pun soal makanan, hal ini sudah diatur dalam Alquran surah Al-baqarah ayat 173 yang artinya,

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi, dan (daging hewan) yang disembelih dengan (menyebut nama) selain Allah. Tetapi barang siapa terpaksa (memakannya) bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

“Ayat ini tidak ada di dalam kitab bulughul marom. Akan tetapi ayat ini akan menjadi landasan di dalam hadits, mana yang dilarang dan mana yang diperbolehkan,” tutur K.H. Ma’ruf Khozin dalam acara “Kajian Kitab Bulughul Marom” yang disiarkan oleh TV NU.

Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah pertama kali menyebut bangkai dan darah, baru kemudian meyebut babi. Namun, realita yang dialami sebagian orang justru lebih merasa jijik dengan babi daripada bangkai. Padahal yang banyak berserakan adalah bangkai. Seperti fenomena ayam tiren (ayam mati kemaren) yang masih marak diperjualbelikan di masyarakat. Pembeli tidak tahu bahwa ayam tersebut sudah berubah statusnya menjadi bangkai. Adanya ayam tiren membuktikan bahwa kesadaran masyarakat masih rendah, khususnya dalam proses pengolahan makanan yang baik dan halal untuk dikonsumsi.

“Ini kalo kata teman-teman PCI NU Jerman: tidak ada hak asasi hewan,” kata Kiai Khozin yang masih menjabat sebagai Direktur Aswaja Center Jawa Timur.

Pemerintah mengeluarkan UU Kesejahteraan Hewan tidak lain agar hewan diperlakukan secara manusiawi sebagaimana mestinya. UU yang dimaksud adalah UU Nomor 18 Tahun 2009 Pasal 66-67 tentang Kesejahteraan Hewan dan UU Nomor 41 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 18 Tahun 2009.

Sesuai ayat di atas, hewan yang diharamkan oleh Allah boleh dimanfaatkan oleh manusia ketika keadaan darurat. Misalnya kasus orang yang melakukan transplantasi dengan organ babi. Salah satu tulang dalam tubuh orang tersebut terindikasi rusak. Kemudian ditransplantasikan dengan tulang babi yang cocok dengan tubuhnya dan tidak mengalami resistensi atau penolakan.

“Selama yang dalam keadaan darurat, maka tidak haram. Allah tidak memberi dosa karena keadaan yang darurat,” imbuhnya.

Contoh lain adalah tentara yang bertugas di hutan belantara. Dalam kondisi darurat sementara tidak ada satu pun yang halal dimakan, maka baginya diperbolehkan makan sesuatu yang diharamakan, misal babi hutan. Pilihan yang demikian boleh diambil agar tidak mendatangkan bahaya yang lebih besar, misalnya mati kelaparan.

Berikut ini beberapa hadits yang terdapat dalam kitab bulughul marom karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani yang berkaitan dengan hewan yang halal dan haram dimakan.

Hadits 1

عَنْ أَبِيْ هُريْرَةَ رَضِىَ اللّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ :(كُلُّ ذِيْ نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ فَأَكَلَهُ حَرَامٌ) رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, dari Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam, beliau bersabda, “setiap yang bertaring dari binatang buas, haram untuk dimakan.” (H.R. Muslim)

“Jika ada hewan buas bertaring dan ia makan dengan gigi taringnya, maka haram. Karena binatang buas tadi mengonsumsi bangkai,” kata Kiai Khozin.

Perumpamaannya ada macan membunuh rusa dengan cara menggigit dengan gigi taringnya sehingga rusa tersebut mati lalu dimakan macan. Maka macan itu memakan bangkai dari rusa yang telah mati.

Hadits 2

وَعَنْ ابْنِ أَبِى أَوْفَى رَضِىَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: (غَزَوْنَا مَعَ رَسُوْلِ اللّهِ ﷺ سبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الجَرَادَ) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Ibnu Abi Aufa radiallahu anhu, dia berkata, “Kami pernah berperang bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam sebanyak tujuh kali peperangan, di sana kami makan belalang.” (muttafaq ‘alaih).

Sebuah riset yang dilakukan oleh mahasiswa IPB membuktikan bahwa belalang kaya akan vitamin. Hanya saja lidah orang Indonesia tidak terbiasa makan belalang. Namun, di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah banyak dijumpai masyarakat yang menjual keripik belalang.

Hadits 3

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللّهُ عَنْهُ فِيْ قِصَّةِ الأَرْنَبِ قَالَ: (فَذَبَحَهَا فَبَعَثَ بِوَرِكِهَا أِلَى رَسُوْلِ اللّه ﷺ فَقَبِلَهُ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

Dari Anas radiallahu anhu tentang kisah seekor kelinci, dia berkata, “Lalu, ia menyembeihnya dan mengirimkan pangkal pahanya kepada Rasulullah ﷺ. Beliau pun menerimanya.” (muttafaq ‘alaih).

Hadits di atas menjelaskan bahwa Nabi pun memakan daging kelinci. Hal ini menunjukkan bahwa kelinci halal dikonsumsi.

Hadits 4

وَعَن ابْنِ عَبّاسٍ رَضِىَ اللّهُ عَنْهُمَا قَالَ: (نَهَى رَسُوْلُ اللّهِ ﷺ عَنْ قَتْلِ أَرْبَعٍ مِنَ الدَّوَابِّ : النَّمْلَةِ، والنَّحْلَةِ، وَالْهُدْهُدِ، وَالصُّرَدِ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَأَبُو دَاوُدَ وَصَحّحَهُ ابْنُ حِبَّانَ.

Dari Ibnu Abbas radiallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah ﷺ melarang membunuh empat macam binatang: semut, lebah, burung hud-hud dan burung shurad (sejenis burung pipit).” (H.R Ahmad, Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)

Hewan-hewan melata seperti yang telah disebutkan di atas tidak boleh dibunuh apalagi dikonsumsi, kecuali untuk pengobatan, seperti semut jepang.

Hadits 5

وَعَن ابْنِ عَمَّارٍ رَضِىَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: (قُلْتُ لِجَابِرِ: الضَّبُعُ صَيْدٌهِيَ؟ قَالَ نَعَمْ. قُلْتُ قَالَهُ رَسُوْلُ اللّهِ ﷺ؟ قَالَ نَعَمْ) رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالأَرْبَعَةُ، وَصَحّحَهُ البُخَارِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ.

Dari Ibnu Abi ‘Ammar, dia berkata, “Aku bertanya kepada Jabir radiallahu ‘anhu, “Apakah dhubu’ (hiena) itu merupakan binatang buruan?” Jawabnya, “Ya,” Aku pun bertanya lagi, “Apakah Rasulullah ﷺ berkata seperti itu?” jawabnya, “ya.” (H.R. Ahmad serta empat orang Imam dan dishahihkan oleh Al-Bukhori dan Ibnu Hibban)

Hiena adalah hewan karnivora berbulu kasar yang sering dijumpai di kawasan Afrika. Meskipun termasuk hewan buruan, akan tetapi Rasulullah memperbolehkan.

“Meskipun hiena mengkonsumsi binatang yang lain, di sini para ulama kita memberi pengecualian terhadap hiena yang memang kemudian dihukumi halal oleh para ulama kita,” tambah kiai khozin yang juga menjadi Ketua Komisi Fatwa MUI Jawa Timur itu.

Selanjutnya pembahasan mengenai kepiting yang termasuk kategori hewan yang dahulu duhukumi haram, sekarang MUI mengatakan halal. Sebab, kepiting termasuk hewan yang hidup di air, karena mempunyai alat nafas berupa insang. Pengecualian ini sama halnya dengan pengecualian bangkai ikan dan belalang.

Kemudian muncul pertanyaan, apakah jerapah, bison, zebra, dan kanguru halal? Jawabannya adalah halal. Dalam pembahasan fikih Imam Syafi’i, jerapah halal karena termasuk hewan herbivora. Akan tetapi yang perlu digaris bawahi, jerapah adalah hewan yang dilindungi negara, maka tidak boleh diburu dan disembelih. Kalaupun suatu saat menjumpai jerapah yang sudah sekarat, boleh disembelih daripada mati dan menjadi bangkai. Bison halal karena termasuk spesies sapi. Hanya saja tekstur dagingnya keras dan langka. Kalau kanguru sama halnya rusa, maka halal dimakan. Namun kembali lagi pada aturan negara.

Lain cerita dengan gajah. Menurut iman syafi’i, gajah tidak diperbolehkan untuk dikonsumsi karena tidak ada pendapat ulama yang memperbolehkan.

“Alasan spesifiknya karena tidak bagus. Di Alquran ada perintah untuk makan yang thoyyib (baik). Tetapi memang hampir tidak ada penjelasan ulama yang membolehkan,” ucap Kiai Khozin.

“Nah itulah kita harus hati-hati agar yang kita makan betul-betul halal,” tegasnya.

Penyembelihan Sesuai Syariat
Penyembelihan hewan yang dibenarkan syariat islam adalah terputusnya dua rongga, yaitu rongga hulqum (rongga nafas) dan rongga mari’ (rongga makanan). Namun sayangnya tidak semua orang memiliki nyali untuk menyembelih dan memahami cara tersebut. Terkadang masih kita jumpai hewan yang disembelih tidak sesuai syariat. Tidak hanya di pasar tradisional, tetapi juga di beberapa minimarket.

Dalam kitab Al-Ikhtiyar lit-Ta’lil Al-Mukhtar dijelaskan,

وَيُكْرَهُ سَلْخُهَا قًبْلَ أَنْ تَبْرُدَ

“Dimakruhkan menguliti hewan sebelum ia dingin (mati total)”

Dalam proses penyembelihan, sebaiknya menunggu hewan sembelihan benar-benar mati sebelum mengulitinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak terlepas dari orang lain. Seandainya kita diundang dalam acara jamuan teman atau saudara non-islam, maka sikap yang tepat adalah menepis keraguan tentang kehalalan atau keharaman makanan tersebut. Kecuali jika sebelumnya kita melihat proses pengolahannya yang jelas-jelas haram, maka harus menolak dengan cara yang halus.

“Suatu hari Nabi Muhammad disuguhi oleh orang Yahudi, beliau tetap makan tanpa bertanya. Maka kita harus menepis keraguan, kecuali kalau memang kita melihat proses masak sebelumnya,” tutup Kiai Khozin.

Kontributor: Alvina Maghfiroh

Spread the love

Comment here