Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Hal yang Tidak Boleh Berubah dari Metode Pengajaran Islam

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya mengungkapkan metode pengajaran tradisional boleh mengalami perubahan demi efektivitas dan penyesuaian terhadap kebutuhan. Namun, ada hal yang tidak boleh diubah, yaitu santri mukim atau harus tetap tinggal di pesantren.

Hal ini sebagai upaya agar para santri dapat selalu dekat dengan kiai dan menghidupi ilmu dengan sanad. Para santri harus memperhatikan kepada siapa mendapatkan ilmu agama tersebut.

“Kiai Hasyim Asyari dalam qonun asasi mengatakan, ‘alla innalhada ‘ilmaddin fa’zuru mimman ta’hudu nadinakum ingatlah bahwa ilmu kita ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian,” ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan tim NU Online, Selasa (11/1/22).

“Santri itu memang harus mukim di pesantren, yang terbaik itu harus mukim, kalau memang mau nyantri. Jadi, kalau memang mau nyantri itu ya cari pondok yang nggak di daerah sendiri, supaya mondok dan mukim, mukim itu supaya bisa berkumpul dengan kiai. Kalau berkumpul dengan Kiai, yang kita harapkan itu kita tidak hanya mendapatkan ta’lim atau pengajaran, tapi juga irsyad,” imbuh Gus Yahya.

Menurutnya, irsyad di pesantren bersifat lebih ruhani dan lebih spiritual, yang hanya didapatkan melalui hubungan interaksi yang intens kepada guru sehingga akan menjadi sanad hingga sampai kepada Rasulullah SAW. Hal tersebut juga berdasar pada istilah shohabi atau shohabat Rasulullah SAW yaitu yang pernah berkumpul atau bertemu dengan Rasulullah SAW.

Memang, lanjutnya, metode pengajaran tradisional seperti ngaji bandongan dan sorogan mengalami berbagai perubahan. Namun, beliau pun memaklumi dan menganggap wajar bentuk modernisasi tersebut sesuai dengan kebutuhan.

“Menurut saya itu wajar. Tahun 1911 Kiai Hasyim Asyari di Tebuireng sudah membuka madrasah dengan sistem kelas. Tapi satu hal yang ndak boleh diubah, yaitu santri muqim, ya kalau santri ya harus muqim, yang terbaik harus muqim, nyari pondok yang tidak di daerah sendiri, supaya bisa berkumpul dengan kiai, tidak hanya mendapatkan ta’lim, tapi juga irsyad. Ini sangat fundamental,” pungkasnya.

Kontributor: Via

Spread the love

Comment here