Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Haji: Bukti Hubungan Hati yang Kuat Antara Muslim dan Ka’bah

Jakarta, LD-PBNU
Tidak disangsikan lagi bahwa haji adalah afdhalu al-tha’ah (bentuk keta’atan yang paling utama) dan haji adalah ajallu al-qurubat (bentuk pendekatan yang paling agung) yang dilakukan oleh seorang muslim terhadap Tuhannya. Demikian pula haji adalah salah satu ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT yang dijadikan sebagai salah satu rukun yang lima di mana di atas rukun yang lima tersebut berdiri lah agama Islam yang kokoh. Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah SAW.

يا محمد أخبرني عن الإسلام , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وتقيم الصلاة وتؤتي الزكاة وتصوم رمضان وتحج البيت إن استطعت إليه سبيلا

Artinya: “Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam ” Rasulullah menjawab,”Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya.” [HR Muslim]

Banyak hadits yang memberikan gairah kepada kita semua untuk melaksanakan ibadah haji, memotivasi untuk melaksanakan keta’atan yang besar, dan menjelaskan yang akan didapat dari pelaksanaan haji, baik berupa pahala yang besar, balasan yang agung dan ampunan dosa. Hal tersebut sebagaimana yang disabdakan oleh rasulullah SAW. kepada ‘Amr bin ‘Ash ketika masuk Islam;

أما علمت أن الأسلام يهدم ما كان قبله, وأن الهجرة تهدم ما كان قبلها وأن الحج يهدم ما كان قبله

Artinya: “Tahukah kamu bahwa sesungguhnya Islam menghapus dosa yang dilakukan sebelumnya, Hijrah berpindah dari keadaan sebelumnya, dan Haji melebur dosa sebelumnya” (H.R. Muslim)

Juga hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

منْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya: “Barang siapa yang melaksanakan ibadah haji dan tidak berbuat rafas (perbuatan kotor) dan fusuk (pertengkaran) maka ia bersih dari dosa bagaikan orang yang kembali terlahir dari ibunya.”
Demikian pula hadits yang diriwayatkan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا ، وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ.

Artinya: “Antara umrah yang satu dan umrah lainnya, itu akan menghapuskan dosa di antara keduanya. Dan haji mabrur tidak ada balasannya melainkan surga.”(HR. Bukhari dari Abu Hurairah)

Kewajiban muslim yang datang memenuhi panggilan haji adalah memaksimalkan kesungguhan hati untuk mengetahui teori dan praktik ibadah haji berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW. Demikian itu semua dengan maksud agar menempuh jalan, menelusuri, dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah SAW. Sehingga pelaksanaan ibadah haji dapat maksimal dan sempurna. Karena tidak akan dikatakan sempurna di dalam menjalankan keta’atan baik dalam ibadah haji maupun ibadah yang lain apabila tidak menempuh dan mengikuti tuntunan Rasulullah SAW.

Tidak dapat dipungkiri bahwa setiap muslim di muka bumi ini akan tergerak hatinya di sekitar bulan pelaksanaan haji yang penuh dengan berkah ini. Perasaan rindu untuk dapat melakukan ibadah haji.Perasaan t untk tamak (rakus) untuk merealisasikan masik haji.Perasaan cinta untuk memandang Ka’bah Bait Allah Al-‘Atiq.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan kita dengan Bait Allah al-Haram adalah sangat kuat.

Hubungan yang kuat antara muslim dengan Bait Allah al-haram tumbuh sejak tertanamnya Islam di hati muslim dan akan terus berlangsung sepanjang ia hidup. Seorang anak yang terlahir dari seorang muslim maka hal pertama yang terdengar di telinganya adalah kalimat seruan kewajiban rukun Islam yang lima.

Jika seorang kafir masuk Islam, dengan bersyahadat maka hal pertama adalah diarahkan untuk melaksanakan kewajiban berikutnya yaitu mendirikan shalat fardlu 5 waktu sehari semalam dan shalat sunnah dengan syarat wajib menghadap Bait Allah al-haram sebagai qiblat hal ini sebagai aman firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah 144;

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Artinya: Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram.Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dengan demikian bagi orang yang pada tahun ini memiliki kesempatan untuk datang memenuhi panggilan haji, hendaklah (Q.S. Al-Baqarah: 144)

  1. Bersyukur atas ni’mat yang Allah berikan, mintalah pertolongan allah agar dapat melaksanakan dan merealisasikan keta’atan dengan baik, mendapatkan kemuliaan menemui qiblat semua muslim di dunia,
  2. Bersungguh-sungguh melaksanakan seluruh manasik haji denga maksimal, tidak setengah hati, sembrono, dan tidak berlebihan tetapi sesuai dengan tuntuna Rasulullah SAW.
  3. Berharap agar amal ibadah haji diterima allah, mendapatkan pahala, diampuni dosa, bersyukur atas usaha, amal shalih diterima dan diberikan kehidupan yang baru yang dipenuhi dengan Iman, taqwa, ramai dengan amal yang baik, istiqamah, dan sungguh-sungguh dalam taqwa kepada Allah.

Haji adalah kesempatan yang besaruntuk mengumpulkan bekasl akhirat dengan taubat kepada Allah dari dosa-dosa yang telah dilakukan. (ASR)

Disususn oleh:
Dr. KH. Kurnali Sobandi, M.M.
(Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Barat / Pengasuh Pesantren Barokah Darurrohman Sukawangi)

Editor: Abdus Saleh Radai

Spread the love

Comment here