Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Habib Riziek Shihab Doakan Kehancuran Aparat, Apa Landasan Teologisnya?

Khotimi Bahri

Jakarta, Dakwah NU
Islam hadir sebagai rahmat bagi sekalian alam. Rahmat seringkali diidentikkan dengan kasih sayang. Dan untuk melihat prototipe rahmatnya Islam, biasa dilihat teladan suci Sang Pembawa risalah, Nabi Muhammad SAW.

Diantara ajaran suci beliau adalah penegasan bagi kita untuk memperhalus budi, melembutkan tutur kata, dan melapangkan hati. Inilah kata kunci misi beliau yaitu menyempurnakan akhlak.

Begitu pentingnya akhlak, sampai-sampai Rosul mengancam orang yang berperilaku kasar dan suka melaknat tidak akan mendapatkan syafaat dan persaksiannya pada hari kiamat akan tertolak (HR. Muslim).Kecaman yang lain, Rosul menyamakan orang yang melaknat orang mukmin yang lain, dengan membunuhnya tanpa hak (HR. Bukhori).

Dalam ilmu Patologi Sosial, ada beberapa karakter yang patut diperhatikan. Merujuk pada teori Gerart Heymans, ada diantara manusia yang memiliki kepribadian Gapasioneerden.

Ciri-ciri seseorang yang mempunyai kepribadian ini adalah selalu bersikap keras, egois, ambisius, dan juga emosional. Namun disisi lain, orang yang memiliki kepribadian gapasioneerden biasanya terlihat mempunyai rasa kekeluargaan yang cukup baik.

Akan tetapi mereka cenderung lemah dalam hal tolong menolong. Kepribadian lain yang juga perlu mendapatkan perhatian adalah, Nerveuzen, dimana orang yang memiliki kepribadian ini akan cenderung mudah naik darah atau marah, suka memprotes sesuatu, dan tidak mau berpikir terlalu lama.

Kepribadian model seperti ini perlu tata-kelola yang intensif dan penanganan yang serius. Sebab jika tidak ditangani, orang yang memiliki keperibadian ini cenderung melahirkan persoalan-persoalan baru dimasyarakat, sekaligus tentu akan kontra-produktif dengan misi rahmatan lil alamiennya Islam.

Lantas, apakah Islam mengajarkan passif, pasrah, fatalisme? Tidak. Islam tidak mengajarkan itu semua.

Akan tetapi reaksi kita ketika ada hal yang dianggap bertentangan dengan norma adalah sikap proporsional, obyektif, dan mengedepankan kemaslahatan jangka panjang.

Bukankah saat Rosul berdakwah ke Thaif mendapatkan perlakuan diluar batas nalar, hingga Malaikat siap menjatuhkan gunung ketangah-tengah mereka.

Namun Rosul berpikir obyektif dan berdimensi maslahat jangka panjang. Menghancurkan mereka bukanlah solusi yang tepat sekalipun bisa. Beliaupun berharap dan berdoa untuk kebaikan mereka dimasa mendatang. Tidak mereka, paling tidak untuk anak cucu mereka.

Sederhananya, risala Rosul adalah rahmat. Senyum Rosul adalah rahmat, dan kalaupun marah, marahnya Rosul adalah rahmat, dalam arti terkendali, obyektif, tidak berlebihan, tidak emosional, tidak melampaui batas, dan tetap ada muatan harapan baik dimasa mendatang.

Maka sangat disayangkan apa yang disampaikan Habib Riziek Shihab kepada pengikutnya, baik yang mengelola masjid, musholla, lembaga pendidikan, majlis taklim, agar pada tanggal 7 Desember, bersama-sama mendoakan kehancuran bagi yang terlibat kasus penembakan 6 laskar FPI di KM 50 Tol Jakarta-Cikampek.

Anjuran ini justru menyalahi syariat Islam. Disamping proses hukum sedang berjalan, dan kita tidak sepenuhnya membenarkan atau menyalahkan aparat. Tentu apa yang terjadi di KM 50 dilatar belakangi oleh kejadian-kejadian sebelumnya.

Dan yang pasti, baik aparat, korban, maupun masyarakat tidak menginginkan semua itu terjadi. Pasti masing-masing pihak punya argumentasi, landasan dan pijakan alasan. Apalagi aparat penegak hukum yang sudah dibekali Protap dan SOP yang terukur, terstruktur, dan sistematis. Biarlah proses hukum yang akan memutuskan.

Pun juga, mendoakan kehancuran bagi orang lain, hatta yang kita anggap berbuat aniaya, tidaklah dibenarkan agama.

Tidakkah Habib Riziek Shihab membaca beberapa nash dan dalil yang melarang umat Islam mendoakan kehancuran bagi umat Islam yang lain.

Apalagi umat Islam tersebut belum terbukti bersalah dan hanya berdasarkan dugaan-dugaan subyektif belaka? Bahkan terhadap yang sudah pasti secara kasat mata berbuat aniaya kepada kita, agama masih meminta kita adil, bijak, tidak berlebihan apalagi menghendaki kehancurannya.

Disinilah perlunya kita mengelola jiwa dari keperibadian Gapasioneerden dan Neveurzen agar letupan-letupan emosional tidak menghilangkan kewarasan rasionalitas kita.

Allah ta’ala berfirman;
“Allah tidak menyukai ucapan buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya (terdzolimi), dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
(QS An-Nisa 148)

Hasan Al-Bashri rohimahulloh mengatakan Jangan mendoakan (keburukan) padanya (orang yang mendzolimi kita), tapi katakanlah “Yaa Allah tolonglah aku atasnya” atau “Keluarkan hak ku darinya”.

Dalam riwayat lain disebutkan, telah diberi keringanan (dibolehkan) untuk mendoakan keburukan pada orang yang mendzoliminya selama tidak melampaui batas (tidak berlebihan).
(Tafsir Ibnu Katsir 2/443)

Imam Al-Ghazali menjelaskan, mendoakan atau mengharapkan kebinasaan atau keburukan atas diri orang lain, adalah perbuatan tercela dalam syariat Islam.

Kitab Ihya Ulumiddin al-Ghazaly menegaskan: “Dekat dengan laknat adalah mendoakan keburukan untuk orang, termasuk mendoakan orang yang berbuat zalim, seperti doa seseorang, ‘Semoga Allah tidak menyehatkan badannya,’ ‘Semoga Allah tidak memberikan keselamatan untuknya,’ atau doa keburukan sejenisnya karena semua itu adalah perbuatan tercela.

Disebutkan dalam hadits, ‘Sungguh, orang yang teraniaya mendoakan keburukan untuk orang yang menganiaya sampai lunas terbayar, tetapi yang tersisa kemudian adalah kelebihan hak orang yang berbuat aniaya atas orang yang teraniaya pada hari kiamat,’” (Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’i Ulumiddin, juz IX, halaman 1569).

Imam Al-Ghazali mengkhawatirkan doa serta harapan kita untuk kebinasaan atau keburukan atas diri orang lain melewati batas.

Terlebih lagi doa orang yang teraniaya diterima Allah SWT. Karena melewati batas kezaliman penganiayanya, orang yang awalnya terzalimi melalui doanya yang berlebihan berubah status menjadi orang yang zalim terhadap mereka yang semula menzaliminya.

Syekh M Nawawi al-Bantani menguraikan: “Mendoakan kebinasaan untuk orang lain. Peliharalah mulutmu agar tidak mendoakan seorang pun dari makhluk Allah sekalipun kamu dizalimi) oleh orang tersebut. Pasrahkan urusannya (masalah orang yang menzalimimu) kepada Allah. Cukup Allah yang menyelesaikannya.

Juga disebutkan dalam  hadist, ‘Sungguh, orang yang dizalimi mendoakan kebinasaan (untuk orang yang menzaliminya sampai mendapatkan pembalasan yang setimpal. Tapi karena doa yang melampaui batas, yang tersisa kemudian adalah kelebihan hak orang yang berbuat zalim terhadapnya (terhadap orang yang tadinya dizalimi). Dan kelak yang tadinya berbuat zalim akan menuntut kelebihan haknya terhadap orang yang dizaliminya (pada hari kiamat’)” (Syekh M Nawawi Banten, Maraqil Ubudiyyah ala Bidayatil Hidayah)

Oleh: Khotimi Bahri
Penulis adalah Wakil Katib PCNU Kota Bogor dan Pembina PC LBM-NU, lahir dan tumbuh dilingkungan NU, mengenyam pendidikan dasar dan menegah di PP Mathlabul Ulum Jambu Sumenep, TMI Al-Amien Prenduan Madura, TQN Kaduparasi Labuan, Raudlatul Hikam Cibinong, dan beberapa pesantren di Jabar. Menyelesaikan S-1 Aqidah Filsafa UIN Bandung dan Pascasarjana MPD-IPB Bogor.

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here