Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Gus Yahya: Pondok Pesantren Harus Tetap Ada

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Yahya Cholil Staquf mengibaratkan orang tua yang menitipkan anak ke pondok pesantren itu sepeeti sedang menanam padi.

“Orang tua yang menitipkan anak-anaknya ke Krapyak itu ibarat putranya itu dijadikan anaknya padi, dari induknya,” ujar Gus Yahya dalam Haul ke-83 Mbah Moenawwir Krapyak, Kamis (13/1/22).

Gus Yahya menekankan, ini perkara penting yang harus diingat. Sebab zaman sudah banyak berubah, ada revolusi digital, ada masyarakat 5.0 dan seterusnya.

Kemudian, dalam zaman seperti ini, Gus Yahya menjelaskan hakikat pondok pesantren harus tetap ada. Hakikat pondok pesantren, yaitu kumpulnya santri dengan Kiai. Mengapa? Karena ilmu yang didapat itu tidak ilmu biasa, tidak sekadar ilmu baca, atau ilmu pikiran.

“Kalau hanya mau hafal Al-Qur’an, tidak usah mondok kira-kira berhasil. Kursus bahasa Arab sekarang sudah banyak, tidak usah hafalan alfiyah, sekarang sudah tidak musim. Saat ini sudah ada modul pembelajaran bahasa arab. Tidak usah sorogan, cukup ikut paket 6 bulan. Jadi kalau hanya ingin tau kitab tidak usah mondok. Saat ini itu hafalin macam-macam juga tidak musim, sudah ada google,” jelasnya.

Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari pernah dawuh, “Ingat ya, ilmu-ilmu sampean ini agama. Makanya harus hati-hati, kalian mengambil agamamu dari siapa itu hati-hati. Ini agama, ilmu yang diambil lebih dalam daripada pikiran.”

“Yang dihasilkan para santri yang diwisuda hafal Qur’an itu bukan hanya hafalan, tapi ada yang lebih dalam yaitu Irsyad agama. Irsyad ini tidak bisa ditransfer diwariskan selain harus kumpul,” terang Gus Yahya.

Maka, lanjutnya, yang disebut sahabat itu harus orang pernah kumpul dengan nabi. Meskipun hidup se-zaman tapi belum pernah ketemu nabi ya belum sahabat. Maka disebut tabi’in, yaitu orang yang mendapat transferan agama.

Kemudian, Gus Yahya menyampaikan, di zaman yang sudah ada internet dan macam-macam ini, pondok pesantren harus tetap ada. Sebab, jika ingin mendapat ilmu beneran harus berani kumpul.

“Kita warga Nahdliyin, jika pandemi sudah lewat, ya ayo tetap kita masih butuh kumpul guru dan kiai. Kumpul dengan orang-orang yang memiliki estafet Irsyad agama,” ajaknya.

Santri Ibarat Tanaman Padi
Dalam ceramahnya, Gus Yahya menyebut para santri yang telah diwisuda, jika disebar bisa membenarkan Al-Qur’an nya orang se-Indonesia, dengan syarat mereka mau ditandur (ditanam).

“Dulu Kiai Hamid berani ditandur di Kediri, ya sudah di sana, saat ini ke Krapyak ya hanya tilik. Padi tidak seperti mangga, mangga bisa dipindah-pindah, padi tidak. Jika sudah ditandur ya sudah di sana,” jelasnya.

Menurutnya, inilah tradisi pesantren yang sudah berjalan selama ratusan tahun dan sudah menghasilkan peradaban Islam yang besar yaitu peradaban Islam Nusantara. Jika orang Islam di Persia atau Afrika Utara tidak heran, karena dulu itu dikuasai secara militer tidak dipaksa masuk Islam. Masyarakat di sana jika tidak masuk Islam tidak dapat zakat Islam dan harus membayar. Makanya lama kelamaan mereka masuk Islam.

Hal tersebut tidak terjadi di Indonesia. Tidak ada cerita raja Mataram narik zakat. Pertanyaannya, sudah gini kok masih ada yang mau masuk Islam? Ya ini karena ada tradisi pondok pesantren. Ini bukan hanya di Jawa tapi rata se-Nusantara sehingga melahirkan peradaban Nusantara.

“Saya sampaikan bahwa mandat NU itu mandat peradaban, karena NU itu harus ngerumat dan bangun peradaban. Maka butuh membangun NKRI ini ya karena punya mandat ini. Mandat peradaban tidak bisa berdiri tanpa kemanusiaan. Maka dibangun NKRI ini untuk menegakkan kemanusiaan,” ujarnya. (fbr)

Spread the love

Comment here