Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

HikmahNasional

Gus Imad Sampaikan Konsep Dakwah Ramah Ala Wali Songo

Jakarta, Dakwah NU
Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. M. Imaduddin, atau lebih dikenal dengan Gus Imad memberikan pandangannya mengenai Dakwah Ramah ala Wali Songo. Hal ini disampaikan beliau kepada tim dakwah NU pada Rabu (6/1/21) siang, mengingat saat ini banyak pendakwah yang kerap kali mengajak mengikuti sunnah Nabi tapi tidak menjunjung akhlak Nabi.

Kiai Muda jebolan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri ini menyampaikan bahwa perlu memandang semua makhluk adalah umat Nabi Muhammad Saw. Sebab apabila konsep tersebut diamalkan, niscaya kasih sayang dan cinta selalu dalam genggaman. Ia juga menyampaikan dakwah yang dilakukan Wali Songo kala itu meniru dakwah Rasulullah Saw dengan bijaksana dan ramah. Artinya dengan berbagai metode yang sesuai dengan keadaan Nusantara kala itu, itulah yang hingga kini dinamakan Islam Nusantara, penerapan Islam di wilayah Nusantara. Berikut ini hal yang disampaikan Gus Imad terkait dakwah Ramah yang diajarkan Rasulullah Saw dan diamalkan Wali Songo sebagai refleksi dakwah yang harus kita terapkan:

Semua adalah umat Nabi Muhammad SAW, entah pejabat, entah dia durhaka atau taat kepada Allah, semuanya Umat Nabi Muhammad. Lalu kalau konsepsi awal kita seperti ini memandang semua makhluk adalah umat Nabi Muhammad. Kita akan memandang mereka dengan pandangan cinta dan kasih sayang. Dan inilah garis dakwah yang diajarkan Rasulullah SAW.

Saya ada kisah sedikit, ketika Nabi Muhammad sudah wafat dan digantikan oleh sahabat Abu Bakar As Sidiq. Putri Aisyah bertanya kepada ayahnya “Ya abadi, wahai ayahku, adakah sunnah sunnah Rasulullah yang belum engkau kerjakan?” Abu Bakar berpikir sejenak, rasanya tidak mungkin beliau melewatkan sunnah Rasulullah. Kata Abu Bakar “Wahai putriku, rasanya semua sunnah Rasulullah sudah aku kerjakan” “Belum wahai ayahku, ada yang belum engkau kerjakan, ketahuilah di sudut pasar madinah ada seorang perempuan nenek nenek buta, ia setiap hari mengemis, Rasulullah setiap hari lewat dan memberi makan orang itu dan disuapi oleh Rasulullah. Sebelum memberi makan Rasulullah menghaluskan makanannya kemudian disuapkan. Setiap hari sepanjang hidupnya Rasulullah melakukan seperti itu. Sekarang Rasulullah sudah tiada. Maukah engkau menggantikan Rasulullah SAW?” “Baik putriku”

Esoknya Abu Bakar berangkat. Sebagaimana Rasulullah, Abu Bakar membawakan makanan, sebelum disuapkan makanan itu dihaluskan kemudian disuapkan kepada perempuan tua itu. Ketika Abu Bakar menyuapkan tiba tiba ditepis. Kata perempuan itu “Siapa engkau, engkau bukan orang yang tiap hari memberi makan saya, saya tahu caranya tidak seperti engkau, jujur siapa engkau” Abu Bakar berkata “Saya yang setiap hari memberimu makan” “Bukan, bukan kamu yang memberi makan” akhirnya Abu Bakar jujur. Kemudian perempuan itu bertanya siapa yang memberinya makan setiap hari. “Ketauhilah yang memberimu makan setiap hari adalah Muhammad Rasulullah SAW yang setiap hari engkau caci maki” Setiap hari pekerjaan perempuan itu mencaci maki Rasul “Hai semua jangan kau ikuti Muhammad, Muhammad itu orang gila, Muhammad itu tukang sihir” Setiap hari. Sambil Rasulullah memberi makan, tiada henti hentinya mulutnya mencaci Rasulullah SAW. Beliau tidak menjawab sepatah kata. Begitu mendengar siapa yang memberi makan hampir pingsan dan meminta maaf dan seketika masuk Agama Islam.

Hikmah bahwa itulah cara Rasulullah SAW berdakwah bahwasanya Nabi Muhammad tidak pernah mencaci maki siapapun. Bahkan Rasulullah SAW bersabda “Aku tidak diutus melaknat, aku juga tidak diutus mencaci maki”. Sesungguhnya ulama pewaris para Nabi. Yang diwarisi bukan hanya ilmu tapi juga akhlaq Rasulullah SAW.

Rasulullah adalah uswatun hasanah, contoh yang baik. Al Quran ini diibaratkan aturan undang undang, modelnya contohnya adalah Rasulullah SAW. Dakwah itu mengajak orang kepada kebaikan. Mengajak orang harus dengan cara cara yang baik. Kita lihat masuknya Islam ke Nusantara bukan dengan penaklukan bukan dengan pasukan perang. Islam masuk ke negara ini dengan proses yang damai sejuk dan berjalan secara lembut. Dai yang datang tidak membawa perang. Islam masuk di Andalusia dengan penaklukan dengan ekspedisi oleh Bani Umayyah menaklukkan Andaluia kemudian ada kerajaan Umayyah. Tetapi peradaban Andalusia tidak bertahan lama. Berbeda dengan Islam di Nusantara. Islam di Nusantara meskipun dijajah oleh Belanda selama 350 tahun tetapi Islam tidak pernah habis di Nusantara ini. Dulu di spanyol dikuasai Islam tapi sekarang pemeluk Islam sangat sedikit. Itulah gambaran perbedaan Islam masuk dengan penaklukan dengan politik bedanya dengan masuk melalui budaya.

Dulu para dai dalam melakukan islamisasi melalui kebudayaan. Kebudayaan yang ada dibiarkan. Walisongo masuk tidak ada candi dan kuil yang dihancurkan. Dulu kalau tradisi orang Hindu meninggal, mereka kumpul di rumah yang mendoakan tapi minum khamr. Walisongo masuk, tradisi kumpul tetap ada tapi diganti dengan dzikir.

Pakaian kokoh itu bukan Islam tapi dari cina. Kopiah hitam juga kebudayaan dari Melayu. Sarung ini dari India. Kemudian dibawa sebagai suatu fashion di Indonesia. Ziarah ke masjid menara Kudus. Dulu Sunan Kudus ketika sholat mengumandangkan adzan di Menara Kudus. Arsitekturnya seperti candi. Sunan Kudus membawa menara ini artinya perpaduan ajaran Islam yang datang dari Arab. Kadang kita tidak bisa membedakan ajaran Islam dan kebudayaan.

Contoh Idul Fitri berbeda dengan di Saudi. Tidak ada halal bi halal dan salam salaman. Bahkan ucapannya berbeda. Kita biasa mengucapkan Selamat Idul Fitri Mina Aidin Wal Faidzin. Ini tidak ada. Bahkan istilah idul fitri sering salah. Itu adalah hari raya iftar berbuka, bukan kembali ke fitri. Berpuasalah kamu ketika melihat hilal, dan berbuka ketika melihat hilal. Semua orang wajib makan dan haram puasa. Halal bi halal tidak ada di kitab manapun. Halal saling menghalalkan atas semua kesalahan. Itulah uniknya tradisi keislaman Indonesia.

Kemudian muncullah Hubbul Wathon Minal Iman. Mencintai tanah air sebagian dari iman. Bukan hadist tapi jargon yang pernah disampaikan KH Hasyim Asyari. Kira kira tahun 1917 masih mempunyai kendala nasionalisme dan agama. Dulu ketika ulama Islam belum menemukan format yang sesuai untuk agama dan nasionalisme. Yaitu tidak memisahkan antara kebangsaan dan ajaran agama. Lahir resolusi jihad. Hukum mempertahankan tanah air adalah jihad.

Indonesia mempunyai keunikan keislaman sendiri. Budaya bisa dijadikan landasan hukum tetapi tidak bertentangan dengan Islam. Contohnya tradisi minum minuman keras LGBT tidak bisa diterima. Kebudayaan dan Islam yang berkembang menjadi Islam Nusantara memiliki keunikan berbeda dengan Islam di dunia manapun. Islam Nusantara bukan anti Arab. Tapi sebuah konsep dalam memahami dalil dan agama dengan budaya.

Dulu zaman Sahabat di akhir pemerintahan Sayyidina Ali. Ketika ada pertentangan dengan Muawiyah. Muawiyah menuntut untuk mengqisas menghukum pembunuh Sayyidina Utsman. Akan tetapi Sayyidina Ali menolak karena pembunuh belum jelas. Akhirnya konflik makin meruncing sampai menjadikan perang. Ketika pasukan Muawiyah terdesak, panglima perang Amr bin Asy mengangkat pedang dan mushaf Al Quran. Amr bin Asy berpidato “Saudara semua, ini korban sudah jatuh banyak, pertumpahan darah ini jangan sampai semakin banyak, mari kita hentikan sekarang juga , mari kita berunding sebab jika semakin lama konflik ini kita teruskan berapa banyak korban kaum muslimin” Akhirnya pihak Sayyidina Ali menerima tawaran perundingan. Pada perundingan itu, Sayyidina Ali yang diwakili Abu Musal Al Asyari kalah secara politik. Akhirnya pemerintah dikuasai oleh Muawiyah bin Sofyan. Ada kelompok Sayyidina Ali yang mendukung dan ada yang menolak dan beranggapan keputusan Sayyidina Ali menerima tawaran tidak berdasarkan Al Quran dan Sunnah.

Kemudian semua yang melakukan perundingan Sayyidina Ali, Muawiyah, Amr bin Asy, Abu Musal dianggap sebagai kafir karena tidak berdasarkan AL Quran dan Sunnah. Inilah awal mula adanya ekstrimisme Islam. Ini bibit bibit terorisme. Memahami Alquran apa adanya dan secara tekstual maka akan terjadi kesalahan. Sayyidina Ali tidak mungkin kafir. Tapi karena hanya memahami ayat dengan apa adanya maka semua dikafirkan. Sekarang sering terjadi dalil agama untuk kepentingan politik.

Di Timur Tengah konflik Suriyah, Libya, Iraq, yang berperang muslim dan muslim diadu domba dengan kekuatan asing, Amerika Rusia yang tujuannya menguasai SDA yang ada. Berbeda dengan di Indonesia. Konflik yang ada di Indonesia beberapa tahun lalu di Poso, Ambon selesai di tingkat lokal tidak sampai ke nasional. Ajaran Islam sudah menggariskan Allah menjadikan kita sebagai umat yang tengah tengah tidak ektrem kiri atau ekstrem kanan serta memahami AL Quran dan sunnah. Kalau kita memahami Al Quran Hadist secara tekstual maka akan mudah mengkafirkan orang lain dan jika ke liberal maka agama akan terlepas. (fqh)

Kontributor : Via Qurrotaaini
Editor : Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here