Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

HikmahNasionalTaushiyah

Fikih Ramadlan 1: Kewajiban Qodha Puasa

Ustadz AMA

Fikih Ramadlan 1: Kewajiban Qodha Puasa
Oleh: Abdul Muiz Ali (Ustadz AMA)
(Pengurus Lembaga Dakwah PBNU)

Jakarta, LD-PBNU
Berpuasa dan mengisi hari-hari bulan Ramadhan dengan serangkaian amal ibadah; tarawih, tadarus, taklim dan amal ibadah lainya merupakan keinginan setiap orang yang jiwanya dibalut dengan iman dak takwa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Meski Ramadhan tahun ini sedikit berbeda dengan Ramadhan sebelumnya disebabkan pandemi COVID-19/Corona, tetapi antusias umat Islam di Indonesia nampak tidak berkurang, bahkan bisa jadi tambah semangat menjemput bulan penuh ampunan (maghfirah) ini.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah [2] : 183).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallama bersabada;

قَالَ أَخْبِرْنِي مَا فَرَضَ اللهُ عَلَيَّ مِنَ الصِّيَامِ فَقَالَ صلى الله عليه وسلم : شَهْرَ رَمَضَانَ، إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا

Sahabat bertanya: “Kabarkan kepada saya apa yang diwajibkan bagi saya untuk puasa?” Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wasallama menjawab: “Puasa bulan Ramadhan, kecuali bila kamu mau menambah dengan yang tathowwu’ (sunah)”. (HR. Al-Bukhari)

Sejarah di syariatkan puasa Ramadhan di mulai sejak tanggal 10 Sya’ban tahun ke-2 Hijriah atau pada saat setelah umat Islam diperintahkan untuk memindahkan Kiblat yang sebelumnya mengarah ke Masjid Al-Aqsa kemudian berubah/pindah mengarah ke Masjidil Haram.

Dalam ketentuan fikih, umat Islam boleh memulai puasanya bisa dengan cara:

  1. Menyempurnakan bilangan bulan Sya’ban menjadi 30 hari.
  2. Dihitung dengan cara melihat hilal (tanggal) bulan Ramadhan. Jika terjadi mendung, awan, asap, debu dll, maka sempurnakanlah bulan Sya’ban menjadi 30 hari (sebagaimana poin 1). Informasi terlihatnya bulan boleh berdasarkan keterangan dari satu atau dua orang laki-laki yang dinilai adil. (Muhammad Az-Zuhri, As-Sirajul Wahhaj, 164).
  3. Pemerintah telah menetapkan (itsbat) awal bulan Ramadhan berdasarkan persaksian orang yang melihat bulan.
  4. Dugaan yang kuat dengan disertai usaha yang maksimal bagi orang yang merasa sangat kesulitan mengetahui awal bulan Ramadhan. (Muhammad bin Umar bin Abdul Mu’thi bin Ali Nawawi Al-Banteni, Nihayatu Az-Zain fi Irsyadi al-Mubtadiin, 168-169).

Menurut sebagian ulama Syafi’iyah, hasil hisab untuk mengetahui awal bulan boleh dijadikan pedoman untuk menentukan awal bulan.

Pendapat diatas merujuk kepada hadis Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wasallama:

إذَا رَأَيْتُمُوهُ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدُرُوا لَهُ . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

“Jika kalian melihat bulan (hilal) Ramadan, maka berpuasalah, dan jika melihat bulan (hilal) Syawal, maka berbukalah, dan jika terlihat mendung diatas kalian, maka kira-kirakanlah.”
(HR. Bukhori dan Muslim)

Arti kalimat فَاقْدُرُوا لَهُ yang dimaksud dalam hadis diatas, menurut ulama yang meyakini metode hisab adalah mengira-ngirakan keberadaan hilal dengan metode hisab”.

Jika terjadi kesimpang siuran atau perselisihan antara hasil Rukyah dan Hisab perihal penetapan awal bulan Ramadhan (sebagaimana juga penetapan awal Syawal), maka ulama mengarahkan untuk mengikuti penjelasan dan keputusan pemerintah.

Kewajiban Qodho Puasa
Sebelum memasuki bulan Ramadhan 1441 H tahun, orang yang punya hutang puasa harus segara menggantinya (qodho) sebelum Ramadhan tahun ini tiba. Jika tidak segera mengganti hutang puasa tahun kemaren, padahal ia mampu melaksanakannya hingga sampai masuk bulan Ramadhan tahun sekarang, maka konsekuensinya disamping ia tetap berkewajiban mengganti hutang puasanya, ia juga wajib bayar fidyah (tebusan) dengan cara; memberi makanan kepada orang fakir/orang miskin sesuai hitungan hari puasa yang ia tinggalkan.

Ukuran fidyah yang harus diberikan kepada fakir miskin adalah 1 Mud= 0,6 Kg atau 3/4 liter beras untuk satu hari puasa yang ditinggalkan. Membayar fidyah dalam bentuk beras merupakan pendapat mayoritas ulama. Namun demikian ada juga sebagian ulama yang memperbolehkan bayar fidyah dalam bentuk uang jika hal itu dipandang lebih maslahah dan bermanfaat untuk menutupi kebutuhan fakir miskin yang menerima fidyah. Wallahu ‘Alamu bihaqiqatilhali.

*Penulis: Abdul Muiz Ali juga Direktur Central Pendidikan dan Pelatihan Baca Kitab Kuning Jakarta (CP2KJ)

Abdus Saleh Radai
Latest posts by Abdus Saleh Radai (see all)
Spread the love

Comments (1)

Comment here