Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Etika Berkata

Ade Muzaini Aziz

ETIKA BERKATA

Jakarta, Dakwah NU
Kalimah thayyibah
, inilah konsep dasar perkataan yang direstui oleh Allah SWT. Ia adalah perkataan yang baik, yaitu perkataan yang kuat akar kebenarannya dan selalu memuat maslahat dan manfaat, laksana pohon yang subur, rimbun dan berbuah lebat. (QS. Ibrahim: 24-25)

Jika kita berkonsultasi kepada al-Qur’an, setidaknya dapat kita temui tujuh jenis perkataan yang sesuai dengan tuntunan Islam. Pertama, qawlun ma’rûf (perkataan yang baik). Perkataan jenis ini sarat dengan kesantunan dan kerendahatian. Kekecewaan akan sirna dari orang yang mendengar perkataan jenis ini, sehingga timbulnya sakit hati dapat dihindari (QS. Al-Baqarah: 263).

Kedua, qawlun tsâbit (ucapan yang teguh). Ia adalah jenis perkataan yang kokoh, yang dilandasi oleh keimanan yang kuat dan menguatkan. Tidak ada keraguan yang menyelimutinya. Kezaliman yang nyata patut dihadapi dengan perkataan jenis ini (QS. Ibrahim: 27).

Ketiga, qawlun sadîd (perkataan yang benar). Tiada dusta dan kebatilan yang termuat dalam ucapan jenis ini. Kata sadîd berasal dari sadda yang berarti menutup, membendung atau menghalangi. Qawlun sadîd yang diucapkan berfungsi untuk mencegah terjadinya kemungkaran dan kezaliman. Termasuk bukti ketakwaan seorang mukmin ketika ia mengucapkan perkataan jenis ini (QS. Al-Ahzab: 70).

Keempat, qawlun balîqh (ucapan yang efektif & efisien). Ini adalah jenis ucapan yang cermat, padat berisi dan mudah dipahami. Tidak ngelantur, namun terarah dan terukur, sesuai sasaran. Tipe perkataan seperti ini akan berpengaruh kuat bagi pendengarnya (QS. An-Nisa`: 63).

Kelima, qawlun karîm (perkataan yang mulia). Ia adalah tutur kata yang bersih dari kecongkakan dan nada merendahkan atau meremehkan teman bicara. Pemuliaan, penghormatan dan penghargaan adalah muatan inti qawlun karîm. (QS. Al-Isra`: 23).

Keenam, qawlun maysûr (ucapan yang layak dan pantas). Maysûr arti asalnya adalah yang memudahkan. Maka hendaknya lisan kita selalu memuat perkataan yang memudahkan segala urusan dan meringankan pelbagai kesukaran yang menimpa sesama, serta menghibur guna meringankan kesedihan orang lain (QS. Al-Isra`: 28).

Ketujuh, qawlun layyin (tutur kata yang lemah lembut). Kelembutan diharapkan dapat menundukkan kekerasan, sebagaimana air memadamkan api. Inilah pesan Allah kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ’alayhimassalâm, ketika keduanya hendak menghadap Raja Fir’aun yang lalim (QS. Thaha: 44).

Rasulullah berwejang kepada kita, “Muslim (sejati) ialah yang orang-orang muslim lainnya selamat dari (bahaya) lisan (perkataan) dan tangannya (perbuatannya).” (HR. Bukhari dan Muslim). Semoga lisan, tulisan, dan tidak terkecuali juga perbuatan kita, senantiasa merupakan refleksi tuntunan Ilahi dan para nabi, amin. (ASR)

Penulis:
KH. Ade Muzaini Aziz, Lc., MA.
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU dan Pengasuh Perguruan Al Mu’in

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah