Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

NasionalTaushiyah

Dengan Ilmu Manusia Menjadi Mulia oleh Kiai Musthofa Aqil Siroj

Jakarta, Dakwah NU
Rais Syuriyah PBNU, KH. Muhammad Musthofa Aqil Siroj yang juga merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Khas Kempek Cirebon, menjelaskan bahwa yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal dan ilmu. Dengan akal manusia bermartabat dan dengan ilmu manusia menjadi mulia.

Penjelasan tersebut beliau sampaikan kepada para santri dan pengurus dalam acara penutupan MATA KHAS Tahun 2020, Kamis malam Jumat (23/7/2020). Berikut ini sambutan lengkap beliau:

Bahwa manusia itu sama dengan binatang, kita makan kerbau juga makan, kita mandi kerbau juga mandi dan seterusnya. Lalu apa yang membedakan manusia dengan binatang? Allah Swt berfirman:

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.

Jadi yang membedakan manusia dengan binatang adalah akal. Dengan akalnya manusia martabatnya lebih tinggi dari pada binatang.

Akal ini untuk menerima ilmu dan ilmu ini yang akan menjadikan manusia mulia. Jika akal manusia tidak diisi ilmu maka manusia sama dengan binatang.

Ilmu ada dua, ada ilmu dunia saja dan ada ilmu dunia akhirat. Dimana ilmu akhirat untuk menjadi orang sholih. Orang sholih adalah orang yang takwa, dan orang takwa adalah orang yang mau mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Ketika Nabi Muhammad Saw mendapatkan wahyu. Nabi itu mendapatkan wahyu dua macam. Pertama wahyu an-nubuwah dan kedua wahyu ar-risalah.

Wahyu nubuwah itu wahyu yang diberikan kepada nabi untuk menerima ilmu ketika di Gua Hiro. Setelah ilmunya penuh, lantas nabi mendapatkan wahyu untuk berdakwah, itu risalah namanya.

Nabi Muhammad Saw itu diangkat sebagai wong sing luwih takwa takwae wong kang takwa. Inilah sosok contoh Inna akromakum ‘inda Allahi atqokum. Orang yang paling mulia adalah orang yang paling takwa.

Sapa sing paling takwa? Wong sing parek karo Allah. Dengan cara apa? Dengan cara berilmu. Ilmunya dengan apa? Dengan akal. Akalnya diolah dan diasah di lembaga pendidikan, seperti pesantren.

Nah, kalau sudah takwa. Kebenaran Allah tidak bisa dibantah. Takwa itu tidak ada kecuali dengan Alquran. Bohong, jika orang takwa tidak pakai Alquran. Allah Swt berfirman:

الم. ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Alif laam miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.

Kesimpulannya, orang-orang yang bertakwa adalah: Pertama, orang beriman (akidah). Kedua, mengerjakan shalat (syariah). Ketiga, menginfakkan harta/kesejahteraan (akhlak). Dan akidah, syariah dan akhlak tersebut semuanya tatap diatur dan dikonsep melalui Alquran. (Ahn)

Tulisan ini juga dimuat di Khaskempek.com

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah