Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Dari Fatahillah Sampai Habib Umar Bin Hafidz: Awal Islamisasi di Betawi

gus imad

Jakarta, Dakwah NU
Ada dua teori mengenai kedatangan Islam di Betawi, yakni teori Syaikh Qura dan teori Fatahillah. Ridwan Saidi dalam bukunya, Sejarah Jakarta dari Peradaban Melayu Betawi, menyatakan Syaikh Qura adalah ulama pertama yang menyebarkan Islam di tanah Betawi. Orang-orang setelah Syaikh Qura bukan penyebar Islam, tetapi penyiar Islam karena hanya melanjutkan usaha Syaikh Qura. Pendapat Ridwan Saidi ini lantaran ia berpendapat bahwa Jakarta, Bekasi dan Karawang merupakan kesatuan wilayah atau bagian dari Nusa Kalapa (Sunda Kelapa) berdasarkan peta yang dibuat oleh Pangeran Panembong atas perintah Prabu Siliwangi (Saidi: 2010).

Sementara teori kedua menyatakan, islamisasi awal di Betawi adalah sejak Fatahillah (orang Portugis menyebutnya Faletehan, sedangkan dalam naskah Purwaka Caruban Nagari disebut Fadhilah Khan), panglima perang dari Kesultanan Demak merebut Sunda Kelapa (nama pertama Jakarta) dari kekuasaan Pajajaran pada 22 Juni 1527. Ia kemudian mengubah nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Nama Jayakarta berasal dari bahasa Arab fathan mubina yang berarti “kemenangan yang nyata”. Di duga kuat Fatahillah mengambil spirit fathu makkah (pembebasan Kota Mekkah) oleh Rasulullah saw pada 630 M, atau tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, yang menandai berakhirnya era paganisme di Arab. Tanggal 22 Juni selanjutnya secara resmi dijadikan sebagai Hari Lahir Kota Jakarta (Aziz: 2002).

Penulis tidak memusingkan manakah yang benar dari kedua teori itu, yang jelas baik Syaikh Qura maupun Fatahillah merupakan ulama yang berfaham ahlussunah wal jama’ah sebagaimana kita temukan profil kedua tokoh ini dalam tulisan-tulisan para sejarawan maupun peneliti. Namun penulis memilih memulai sejarah Islam di Betawi dari Fatahillah, sebab data-data tentang perkembangan Islam di Betawi pasca Fatahillah merebut Sunda Kelapa amatlah banyak. Begitu juga studi tentang Islam di Betawi juga banyak di mulai dari Fatahillah.

Latar belakang penaklukkan Sunda Kelapa sebagai berikut. Penguasa Demak, Sultan Trenggono (berkuasa 1521-1546) geram begitu mendengar Kerajaan Sunda Pajajaran yang waktu itu menguasai Nusa Kalapa (wilayah Jakarta dahulu), yang memiliki pelabuhan internasional bernama Sunda Kelapa, telah mengadakan perjanjian keamanan dan perdagangan dengan portugis pada 1522. Keberadaan Portugis di Sunda Kelapa adalah ancaman atas penyebaran Islam, politik dan perdagangan Kerajaan Demak yang saat itu sedang berada di puncak kejayaannya. Ia kemudian memerintahkan iparnya yang bernama Fatahillah memimpin pasukan Demak untuk membebaskan Sunda Kelapa. Dibalik itu juga, ia ingin membalas kekalahan Demak beberapa tahun sebelumnyadari Portugis saat menyerbu Malaka (sejak 1511 sudah dikuasai Portugis), yang menyebabkan kematian kakaknya, Pati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, putera Raden Abdul Fattah Raja Pertama Demak (Sagimun MD: 1988).

Siapakah sosok Fatahillah, ipar Sultan Trenggono ini? Mengutip buku Sejarah Jakarta Jilid 1 terbitan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemprov DKI Jakarta tahun 2012, berdasarkan naskah Purwaka Caruban Nagari, Ia adalah seorang ulama muda yang berasal dari Pasai (Aceh). Ketika Pasai dikuasai Portugis pada 1511, Ia meninggalkan tanah kelahirannya menuju Demak karena mengaggap tanah airnya telah dijajah oleh kafir. Karena ilmu agamanya tinggi dan Sultan Trenggono pun suka dengan pribadi anak muda dari Pasai ini, dinikahkanlah ia dengan saudara perempuan Sultan Trenggono.

Sebelum menyerbu Sunda Kelapa, Fatahillah diperintahkan Sultan Demak untuk mengislamkan Banten terlebih dahulu. Sebelum sampai di Banten Ia singgah terlebih dulu di Cirebon untuk menemui gurunya, Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, penguasa Cirebon (kelak menjadi mertuanya). Bimbingan dan arahan dari Syarif Hidayatullah amat penting baginya sebelum mengislamkan Banten dan menyerbu Sunda Kelapa. Syarif Hidayatullah tidak hanya memberikan bimbingan, bahkan memberikan bantuan pasukan dari Cirebon. Sementara itu, di Banten Syarif Hidayatullah telah menempatkan puteranya Maulana Hasanudin yang saat itu sedikit demi sedikit mulai menguasai Banten. Setelah Banten berhasil diislamkan, berangkatlah Fatahillah bersama dengan 1967 pasukan gabungan Demak, Banten, dan Cirebon menyerang armada Portugis di Sunda Kelapa. Sunda Kelapa berhasil dibebaskan dan peristiwa itu terjadi pada tanggal 22 Juni 1527 (Fadli HS: 2011).

Setelah menguasai Sunda Kelapa dan mengganti namanya dengan Jayakarta, Fatahillah kemudian membangun Kota Jayakarta dengan gaya Islam. Ia membangun Jayakarta meniru model Kadipaten di Jawa Islam. Sebagai pusat kota adalah alun-alun yang diapit oleh bangunan masjid di Barat, keraton atau dalem di Utara dan rumah patih Jayakarta di Timur.

Di masa pemerintahan Islam Jayakarta (1527-1619), masjid adalah basis penyiaran agama Islam di tanah Betawi. Kehadiran masjid selama sekitar satu abad sampai Jayakarta dibumihanguskan oleh J.P. Coen pada 1619, memberi andil besar bagi proses islamisasi di Jayakarta, seperti pada umumnya fungsi masjid di kota-kota pelabuhan Jawa (Aziz; 2012).

Pemerintahan Islam Jayakarta dimulai ketika Fatahillah diangkat Sunan Gunung Jati menjadi Bupati pertama, yakni 22 Juni 1527 dan berakhir tanggal 30 Mei 1916, ketika Keraton Pangeran Jayakarta Wijayakrama dibumihanguskan oleh Jan Pieterzoon Coen, Gubernur Jenderal VOC. Sepeninggal Fatahillah yang wafat pada tahun 1570, tampuk pemerintahan Jayakarta dipegang oleh Tubagus Angke. Tubagus Angke adalah putera Pangeran Panjunan atau Maulana Abdurrahman bin Syekh Dzatul Kahfi dari Cirebon. Ia berkuasa dari 1570 sampai 1596. Setelah Tubagus Angke, kepemimpinan Jayakarta dilanjutkan oleh puteranya Pangeran Jayakarta Wijayakrama dari tahun 1596 hingga 30 Mei 1916 (Fadli HS: 2014).

Pada masa pemerintahan Islam Jayakarta, hubungan antara Jayakarta dengan Kesultanan Banten sangat erat, bahkan terjadi hubungan pernikahan antara Sultan-sultan Banten dengan penguasa Jayakarta. Tubagus Angke menikah dengan Ratu Pembayun puteri Sultan Hasanudin (Sultan Banten pertama, putera Syarif Hidayatullah). Pangeran Jayakarta Wijayakrama juga menikah dengan seorang sepupunya yang juga cucu Sultan Hasanudin. Jadi penguasa-penguasa Jayakarta masih terikat hubungan kekluargaan yang erat dengan penguasa Banten. Di bawah pemerintahan Tubagus Angke dan Jayakarta Wijayakrama daerah Jayakarta menjadi bagian dari Kesultanan Banten (Sagimun MD: 1988).

Oleh: Kyai M. Imaduddin (Gus Imad)
Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana UNUSIA, Direktur Pendidikan Dai Penggerak Nahdlatul Ulama (PDP-NU) dan Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU (Periode 2015-2021)

Abdus Saleh Radai
Spread the love

Comment here