Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Tokoh

Dakwah ala Sayyid Fadl al Al Mahdaly

Ahmad Fadl al Mahdaly. Demikian nama lengkap beliau yang pernah dituliskan langsung di hadapan saya. Namanya terkenal sebagai pria yang belatar belakang keluarga para Habaib.

Belakangan, beliau mendisiplinkan diri dalam aktivitas pembacaan Ratibul Haddad setiap pekan, yang disertai dengan live dari akun Facebook milik pribadinya.

Saya pun seringkali mengaguminya dalam posisi sebagai netizen. Hal unik dari pengajian yang dinamai Majelis Pengajian To Pusa ini, karena selalu mengawali dengan sapaan serta mengirimkan doa-doa terbaik bagi segenap netizen di mana pun Ia berada.

Kesan jenaka dan apa adanya ditampilkan setiap kali menggelar pengajian ala To Pusa itu. Hingga terkadang dengan spontan Ia sampaikan bahwa Ia lupa dengan apa yang ingin diutarakan. Namun jangan menduga, dengan segala kesederhanannya itu, kadang mampu menembus hingga 102 kali dibagikan, 1900 kali ditayangkan.

Ini memiliki arti bahwa kehadiran model dakwah merlalui jejaring media sosial berjenis Facebook cukup efektif untuk menyasar generasi yang kiblat kehidupannya kini mengarah ke gadget.

Tentu, dengan kecanggihan perangkat teknologi masa kini tidak langsung menyebutnya sebagai sesuatu yang final. Sebab S. Ahmad Fadlu, memiliki ke-khas-an yang menurut saya cukup relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

Di antara ke-khasan itu adalah konsistensinya untuk terus menyerukan pesan kedewasaan menerima perbedaan. Bahwa perbedaan itu merupakan keniscayaan hidup yang tak mungki dapat digugat kehadirannya. Maka membangun harmoni adalah jawaban terhadap aneka rupa kemajemukan itu.

Kedua, Ia juga tak henti-hentinya menitipkan pesan keluhuran para penganut agama agar ikut serta merayakan kebahagiaan orang-orang di sekelilingnya. Di saat yang sama, juga dituntut agar mampu mendermakan jiwa dan raga di berbagai sudut-sudut penderitaan umat.

Ketiga, dan ini paling unik, yakni kedekatannya dalam berbagai pergumulan budaya. Beliau tak hanya mampu bicara agama dalam bingkai budaya. Tapi juga tegas dalam menegakkan budaya sebagai altar suci kehidupan beragama.

Dengan pemahaman apik tentang relasi agama dan budaya yang dimilikinya, wajar saja, jika di setiap tutur katanya terlontar pesan hikmah yang teduh. Ia benar-benar piawai mengambil analogi, memilih diksi yang sehalus mungkin.

Dari beliau kita belajar tentang ghirah berdakwah yang menghadirkan agama dengan cara yang menyejukkan. Dengan demikian, agama dan budaya perlu didudukkan dalam segala rupa perbicangan ke-umatan.

Dalam sebuah pesan disampaikan, bahwa yang membanggakan kita selama ini karena dua identitas yang dimiliki. Yakni sebagai Muslim sekaligus sebagai orang Mandar. Artinya mampu menjalankan kepatuhan sesuai dengan tuntunan agama, serta menyemaikan budaya sebagai bagian dari adab kehidupan.

Terakhir, penting kiranya untuk menggali lebih dalam dari beliau tentang gagasan cinta dan etika yang menjadi payung besar gerakan ke-umatannya.

Oleh:
Nur Salim Ismail
Ketua LDNU Sulbar

Spread the love

Comment here