Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Belajarlah Agama Kepada Ulama yang Memiliki Sanad Keilmuan! (Sanad Mazhab Syafi’i Pondok Pesantren Lirboyo)

Imad

“Isnad adalah sebagian dari agama. Tanpa adanya sanad, seseorang akan bicara apa saja yang ia kehendaki”
-Abdullah bin Al Mubarak (w. 181 H.)-

I. PENDAHULUAN
Pesantren, menurut Zamakhsari Dhofier, dalam bukunya Tradisi Pesantren; Studi tentang Pandangan Hidup Kiyai, terbitan LP3S cetakan keempat tahun 1985, berasal dari kata santri, yang dengan awalan pe di depan dan akhiran an bermakna tempat tinggal para santri. Sementara mengenai istilah Santri, masih Dhofier, dengan mengutip C.C. Berg, berasal dari istilah shastri yang dalam bahasa India berarti orang-orang yang tahu kitab-kitab suci Agama Hindu. Kata Sasthri berasal dari kata shastra yang berarti buku-buku suci, buku-buku agama atau buku-buku tentang ilmu pengetahuan. Kata Pesantren diambil dari kata santri, berarti tempat tinggal para santri.

Pesantren yang ditengarai sebagai lembaga pendidikan tertua di Nusantara dalam sistem pengajarannya memiliki keunikan atau kekhasan tersendiri dibanding lembaga pendidikan lainnya. Salah satu keunikan sistem pengajaran pesantren adalah kitab kuning dan sanad keilmuan. Melalui sanad keilmuan terciptalah kesinambungan hubungan antara guru dan murid meski si santri sudah tak lagi belajar kepada kiyainya dan meski gurunya sudah meninggal dunia. Dari sini terbentuk pola komunikasi spiritual antara guru dengan murid, yang diwujudkan salah satunya dengan santri yang mengirim fatihah kepada guru-gurunya sebelum memulai pengajian atau pengajaran.

II. PESANTREN DAN SANAD KEILMUAN
Masih mengutip Zamakhsyari Dhofier dalam penelitiannya terahadap beberapa pesantren di Jawa pada kurun 70-an menemukan kesimpulan bahwa, para kiyai pesantren selalu terjalin oleh intellectual chains (rantai intelektual) yang tidak terputus. Ini artinya antara satu pesantren dengan pesantren lainnya, baik satu kurun maupun dari satu generasi ke generasi berikutnya terjalin hubungan intelektual yang mapan. Dalam tradisi pesantren rantai intelektual atau rantai transmisi ini disebut sanad.
Sanad adalah ketersambungan ilmu antara guru dan murid. Dalam kajian pesantren, sanad sangat penting artinya. Sanad menunjukkan hubungan berantai antara guru (kiai) dan murid (santri). Dengan sanad, ilmu yang didapat sangat bisa dipertanggungjawabkan. Karena, terutama dalam tradisi pesantren, ilmu yang diperoleh santri adalah ilmu yang diperoleh dari gurunya, dari gurunya gurunya, dari mushannif (pengarang kitab), hingga sampai kepada Rasulullah saw.
KH. Abdullah Kafabihi Mahrus, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo saat ini, dalam sambutan melepas lulusan Pesantren Lirboyo tahun 2016-2017 menggambarkan sanad ialah “Sanad itu bagai pedang. Bagaimana orang berangkat perang tanpa membawa pedang? Dengan sanad, kita akan tahu siapa guru-guru kita. Guru adalah termasuk orang tua kita. Sangat buruk kalau kita tidak tahu siapa orang tua kita.”

Biasanya, setiap santri yang lulus dari pesantren tidak hanya mendapatkan ijazah kelulusan dari pesantren, tetapi juga mendapatkan ijazah sanad kitab-kitab kuning yang telah dipelajari di pesantren. Saya, sebagai salah satu lulusan pesantren Lirboyo mendapatkan satu buku ijazah sanad-sanad kitab yang saya pelajari di Lirboyo. Dan saya juga mendapatkan ijazah sanad Mazhab Syafi’i.

III. PROFIL SINGKAT PONDOK PESANTREN LIRBOYO
Lirboyo adalah nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Mojoroto Kota Kediri Jawa Timur. Di desa inilah telah berdiri hunian atau pondokan para santri yang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Lirboyo.
Lirboyo adalah salah satu pesantren tertua dan terbesar di Jawa Timur, bahkan di Indonesia. Berdiri pada tahun 1910 M. Diprakarsai oleh Kyai Sholeh, seorang yang Alim dari desa Banjarmelati dan dirintis oleh salah satu menantunya yang bernama KH. Abdul Karim, seorang yang Alim berasal dari Magelang Jawa Tengah.

Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat sekali hubungannya dengan awal mula KH.Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 M. setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kyai Sholeh Banjarmelati.

Pondok pesantren Lirboyo saat ini menampung lebih dari 30 ribu santri dari berbagai dari di Indonesia, bahkan sampai luar negeri. Pondok pesantren Lirboyo adalah salah satu pesantren yang masih bertahan dengan metode salafiah, yakni yang hanya memfokuskan pada kajian agama dan pendalaman kitab kuning. Namun demikian, untuk merespons perkembangan jaman belakangan Lirboyo juga membuka lembaga pendidikan formal yang mengacu pada kurikullum Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kemanterian agama melalui pondok-pondok unit yang diasuh oleh beberapa dzuriyah KH. Abdul Karim.

Pondok pesantren Lirboyo telah melahirkan ratusan ribu alumni sejak awal berdirinya hingga saat ini. Alumni-alumni Lirboyo banyak yang menjadi ulama besar, seperti KH. Maemun Zubair, KH. Musthofa Bisri, KH. Bisri Musthofa, KH. Nur Muhammad Iskandar SQ, dan KH. Said Aqil Siradj (Ketum PBNU Saat ini), dan ribuan ulama lainnya yang juga mendirikan pondok pesantren.

IV. PROFIL SINGKAT KH. ABDUL KARIM
KH. Abdul Karim lahir di dusun Banar, Kawedanan, Mortoyudan, Magelang, 1858 – dari pasangan Kyai Abdur Rahim dan Nyai Salamah. Manab adalah nama kecilnya dan merupakan putra ketiga dari empat bersaudara. Saat usia 14 tahun, mulailah ia melalang dalam menimba ilmu agama dan saat itu ia berangkat bersama sang kakak (Kiai Aliman).

Pesantren yang pertama ia singgahi terletak di desa Babadan, Gurah, Kediri. Kemudian ia meneruskan pengembaraan ke daerah Cepoko, 20 km arah selatan Nganjuk, di sini kurang lebih selama 6 Tahun. Setalah dirasa cukup ia meneruskan ke Pesantren Trayang, Bangsri, Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, disinilah ia memperdalam pengkajian ilmu Al-Quran.

Lalu ia melanjutkan pengembaraan ke Pesantren Sono, sebelah timur Sidoarjo, sebuah pesantren yang terkenal dengan ilmu Shorof-nya. 7 tahun lamanya ia menuntut ilmu di Pesantren ini. Selanjutnya ia nyantri di Pondok Pesantren Kedungdoro, Sepanjang, Surabaya. Hingga akhirnya, ia kemudian meneruskan pengembaraan ilmu di salah satu pesantren besar di pulau Madura, asuhan Ulama’ Kharismatik; Syaikhona Kholil Bangkalan. Cukup lama ia menuntut ilmu di Madura, sekitar 23 tahun.

Pada usia 40 tahun, KH. Abdul Karim meneruskan pencarian ilmu di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim, yang diasuh oleh sahabat karibnya semasa di Bangkalan Madura, KH. Hasyim Asy’ari. Hingga pada akhirnya KH. Hasyim asy’ari menjodohkan KH. Abdul Karim dengan putri Kyai Sholeh dari Banjarmlati Kediri, pada tahun1328 H/ 1908 M.

KH. Abdul Karim menikah dengan Siti Khodijah binti KH. Sholeh, yang kemudian dikenal dengan nama Nyai Dlomroh. Dua tahun kemudian KH. Abdul karim bersama istri tercinta hijrah ke tempat baru, di sebuah desa yang bernama Lirboyo, tahun 1910 M. Disinilah titik awal tumbuhnya Pondok Pesantren Lirboyo.
Kemudian pada tahun 1913 M, KH. Abdul karim mendirikan sebuah Masjid di tengah-tengah komplek pondok, sebagai sarana ibadah dan sarana ta’lim wa taalum bagi santri.
Secara garis besar KH. Abdul karim adalah sosok yang sederhana dan bersahaja. Ia gemar melakukan Riyadlah; mengolah jiwa atau Tirakat, sehingga seakan hari-harinya hanya berisi pengajian dan tirakat. Pada tahun 1950-an, tatkala KH. Abdul Karim menunaikan ibadah haji yang kedua kalinya -sebelumnya ia melaksanakan ibadah haji pada tahun 1920-an- kondisi kesehatannya sudah tidak memungkinkan, namun karena keteguhan hati akhirnya keluarga mengikhlaskan kepergiannya untuk menunaikan ibadah haji, dengan ditemani sahabat akrabnya KH. Hasyim Asy’ari dan seorang dermawan asal Madiun H. Khozin.

Sosok KH. Abdul Karim adalah sosok yang sangat istiqomah dan berdisiplin dalam beribadah, bahkan dalam segala kondisi apapun dan keadaan bagaimanapun, hal ini terbukti tatkala ia menderita sakit, ia masih saja istiqomah untuk memberikan pengajian dan memimpin sholat berjemaah, meski harus dipapah oleh para santri. Akhirnya, pada tahun 1954, tepatnya hari senin tanggal 21 Ramadhan 1374 H, KH. Abdul Karim berpulang kerahmatullah, ia dimakamkan di belakang masjid Lirboyo.

V. SANAD MAZHAB SYAFI’I PONDOK PESANTREN LIRBOYO
Saya (penulis makalah ini) mendapatkan sanad Mazhab Syafi’i diijazahkan langsung oleh Allahu yarham KH. Ahmad Idris Marzuqi menjelang kelulusan saya pada tahun 2008. KH. Ahmad Idris Marzuqi adalah pengasuh Ponpes Lirboyo generasi Ketiga. KH. Ahmad Idris Marzuqi dilahirkan dari seorang yang ahli tirakat, seorang penuntut ilmu yang luar biasa. KH Marzuqi Dahlan atau Gus Juqi adalah putra dari Kiai Dahlan bin KH Sholeh asal Bogor yang juga pengasuh Pesantren Jampes yang berjarak lima kilometer dari Pesantren Lirboyo arah utara. KH. Marzuqi Dahlan adalah murid sekaligus menantu dari KH. Abdul Karim, pendiri Pondok Pesantren Lirboyo.

KH. Kafabihi Mahrus, pengasuh Ponpes Lirboyo saat ini mengenang Kiyai Idris sebagai sosok yang bijaksana, beliau bisa berhubungan baik kepada siapa saja, baik kepada dzuriyyah juga kepada orang luar seperti pejabat, masyarakat dan lain-lain. Kiai Idris sudah kenyang akan pasang surut keadaan bangsa Indonesia. Beliau berperan sebagai pelaku sejarah, pendidik dan juga seorang yang sampai akhir hayatnya berkhidmat untuk warga Nahdliyin. Tercatat beliau menjadi Musytasar PBNU sejak masa kepemimpinan Gus Dur sampai KH. Said Aqil Siradj.

KH. Idris Marzuqi mendapatkan sanad dari 2 jalur, yang akan diurai di bawah ini:
Jalur Pertama dari:
1. Syekh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al Fadani
2. Syekh Baqir bin Muhammad Nur Al Jokjawi (w. 1363 H.)
3. Sayid Abdul Karim bin Hamzah Ad Dhagestani
4. Syekh Abdul Hamid Ad Daghestani As Syarwani, Karyanya: Hasyiah Asy Syarwani ‘ala At Tuhfah
5. Al Burhan Ibrahim bin Muhammad Al Baijuri (w. 1277 H.). Karyanya: Hasyiah Al Baijuri ‘ala Fathil Qorib
6. Syekh Syamsuddin Muhammad Al Faddholi (w.1236)
7. Syekh Abdullah bin Hijazi Asy Syarqowi (w. 1226 H.). Karyanya: Al Jawahiru As Suniah, Hasyiah Asy Asyarqowi ‘ala At Tahrir
8. Syekh Muhammad bin Salim bin Ahmad Al Hifni (w. 1181 H.)
9. Syekh Abul ‘Abbas Ahmad bin Muhammad Al Khulaifi (w. 1127 H.)
10. Syekh Ahmad bin Abdul Lathif Al Basybisyi (w. 1096 H.)
11. Syekh Ali bin Ibrahim An Nur Al Halabi (w. 1044 H.)
12. Syekh An Nur Ali bin Yahya Az Zayadi (w. 1024 H.)
13. Syekh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Ar Romli (w. 1004 H.)

Jalur Kedua dari:
1. Syekh Marzuqi Dahlan Liboyo (w. 1395 H.)2. Syekh Abdul Karim, Pendiri Ponpes Lirboyo (w. 1374 H.)
3. Syekh Kholil Bangkalan (w. 1343 H.)
4. Syekh Nawawi Al Bantani (w. 1314 H.). Karyanya: Nihayah Az Zein ‘ala Qurratil ‘Ain, Tausyih ‘ala Ibni Qosim Al Ghozi
5. Syekh Yusuf bin Muhammad Arsyad Al Banjari
6. Syekh Muhammad Arsyad bin Abdusshomad Al Banjari (w. 1227 H.)
7. Syekh Muhammad Sulaiman Al Kurdi (w. 1192 H.). Karyanya: Hawasyi Al Madaniah ‘ala Al Muqoddimah Al Hadromiyah
8. Syekh Muhammad Sa’id bin Sanbal (w. 1170 H.)
9. Syekh ‘Id bin Ali An Namursi Al Barlisi (w. 11140 H.)
10. Syekh Abdullah bin Salim Al Bashri (w. 1134 H.)
11. Syekh Abdul Aziz bin Muhammad Az Zamzami Al Maki (w. 1072 H.)
12. Syekh Muhammad bin Abdul Aziz Az Zamzami Al Maki (w. 1009 H.)
13. Syekh Al Khotib Muhammad bin Muhammad As Syarbini (w. 977 H.). Karyanya: Mughni Al Muhtaj, Al Iqna’, dll.

Dari dua jalur sanad tersebut, keduanya bertemu pada Syaikhul Islam Syekh Zakaria bin Muhammad Al Anshori (w. 926 H.) Mazin al-Mubarak, dalam al-Hudud al-Aniqah wa at-Ta’ritaf ad-Daqiqah Lil Qadhi Syekh Zakaria, terbitan Dar al-Fikr, Beirut tahun 1991, menyatakan, Syekh Zakariya Al Anshori merupakan salah satu pembesar Mazhab Syafi’i pada abad 10 Hijriah. Syekh Zakaria al-Anshari dilahirkan di Sunaikah yaitu suatu desa yang terletak di negara Mesir pada tahun 824 H. Kemudian dia pergi ke Kairo menuju Al-Azhar tahun 841 H, dan pindah dari Mesir ke Hijaz bersamaan pada saat beliau menjalankan haji tahun 850 H.

Guru-guru Syekh Zakariya Al Anshori banyak sekali, sekitar 150 guru. Salah satu gurunya dalam bidang fiqh, hadis, dan ushul fiqh adalah Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqallani (w. 852 H). Sementara murid-murid beliau yang juga menjadi pembesar Mazhab Syafi’i antara lain: Ibnu Hajar al-Haitami (w. 974 H.), Syamsuddin ar-Ramli (w.1004 H.), Al-Khatib asy-Syarbini (w. 977 H). Dua nama yang disebut terakhir adalah jalur sanad yang disebutkan dalam makalah ini. Di antara karya fiqh beliau adalah Asna al-Mathalib Fi Syarh Raudh ath-Thalib, Minhaj At Thullab, Fath al Wahhab, Al Ghurar Al Bahiah, dll.

Berikut ini sanad Fiqh Mazhab Syafi’i dari Syaikhul Islam Syekh Zakaria bin Muhammad Al Anshori sampai kepada al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i:

15. Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqallani (w. 852 H). Karya-karyanya: Fathul Bari ‘ala Shohih Al Bukhori, Bulughul Maram, At Talkhisul Jayyid, dll.
16. Al Burhan Ibrahim bin Musa Al Anbasi (w. 803 H.) Karyanya: Syarh Al Mughni Mukhtashar At Tanbih li al Barizi
17. Al Jamal Ibrahim bin Hasan Al Isnawi (w. 772 H.). Karya: Al Muhimmat ‘ala Ar Raudhah wa Kaafi al Muhtaj
18. Taqiyuddin Ali bin Abdul Kafi As Subuki (w. 756 H.). Karya-karyanya: al Ibtihaj Syarh al Minhaj, Taklimah Syarh al Muhadzdzab
19. An Najm Ahmad bin Muhammad bin Rif’ah Al Mishri (w. 710 H.). Karya-karyanya: al Mathlab al ‘Ali Syarh al Wasith, Kifayah at Tanbih Syarh at Tanbih
20. Taqiyuddin Muhammad bin Ali bin Daqiq al ‘Id (w. 703 H.).
21. Sulthon Al Ulama ‘Izzudin bin Abdissalam (w. 660 H.). Karya-karyanya: al Qowaid al Ahkam fi Mashalih al Anam, al Qowaid al Kubro wa as Sughro
22. Al Fakhr Abdurrahman bin Muhammad bin ‘Asakir (w. 620 H.).
23. Mas’ud bin Muhammad An Naisaburi (w. 578 H.). Karya-karyanya: al Hadi Mukhtashor al Masyhur
24. Umar bin Ali bin Sahl Ad Damighani (w. 549 H.).
25. Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali (w. 505 H.). Karya-karyanya: al Basith, al Wasith, al Wajiz, Ihya Ulum ad Din
26. Imam Al Haramain Abu Al Ma’ali Abdul Malik Al Juwaini (w. 478 H.). Karya-karyanya: Nihayah al Mathlab fi Dirayah al Madzhab, Al Waraqat
27. Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf bin Abdullah Al Juwaini (w. 438 H.). Karya-karyanya: Syarh ar Risalah, Mukhtashar al Mazani
28. Abu Bakar Abdullah bin Ahmad Al Qhaffal as Shoghir Al Marwazi (w. 417 H.). Karyanya: Syarh al Mukhtashar
29. Abu Zaid Muhammad bin Ahmad bin Abdullah Al Faasyani Al Marwazi (w. 371 H.).
30. Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad Al Marwazi Al Kabiir (w. 304 H.). Beliau adalah puncak pertemuan sanad Mazhab Syafi’I dari jalur ulama-ulama Iraq dan Khurasan. Dan beliau adalah tokoh yang menyebarkan Mazhab Syafi’i di Irak dan wilayah Mesir dan sekitarnya.
31. Abu Al ‘bbas Ahmad bin Umar Suraij Al Baghdadi (w. 306 H.)
32. Abu Al Qosim ‘Usman bin Sa’id Al Anmathi (w. 288 H.)
Selanjutnya, Abu Al Qosim ‘Usman bin Sa’id Al Anmathi mendapatkan periwayatan Mazhab Syafi’i dari:
33. Abu Muhammad ar Rabi bin Sulaiman Al Muradi (w. 280 H.) dan Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al Mazani (w. 264 H.). Beliau berdua adalah murid dari pendiri Mazhab syafi’I, yaitu:
34. Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’I (w. 204)
Alhasil, mata rantai sanad Mazhab Syafi’ Pondok Pesantren Lirboyo yang penulis dapat dari KH. Ahmad Idris Marzuki hingga Al Imam Asy Syafi’i, melewati 34 mata rantai.

VI. PENUTUP
Islam adalah ajaran yang memerhatikan sanad keilmuan. Kalangan pelajar (thullab al ilm) dan ulama penting mengetahui asal suatu ajaran agama, sehingga apa yang didapatkan dan disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. Abdullah bin Mubarak (w. 181 H.) mengatakan, “isnad adalah sebagian dari agama. Tanpa adanya sanad, seseorang akan bicara apa saja yang ia kehendaki”. Ajaran Islam disampaikan dari generasi ke generasi, dari kalangan ulama ke murid-muridnya. Semua ajaran ini diharapkan tersambung hingga Rasulullah saw, supaya ajaran Islam benar-benar terjaga. Lebih-lebih dalam bidang hadis, para ahli sangat ketat bersikap. (ASR)

Penulis:
M. Imaduddin (Gus Imad)
(Wakil Sekretaris Lembaga Dakwah PBNU & Direktur PDPNU)

Spread the love

Comment here