Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Begini Tanggapan Pakar Epidemiologi Terkait Muktamar ke-34 NU

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Pakar Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, dr. Syahrizal Syarif, MPH. Ph.D, menyebutkan tiga pertimbangan yang harus diperhatikan jika Muktamar ke-34 NU dipaksakan terlaksana tahun ini.

Pertama, adanya gelombang ketiga penyebaran Covid-19 yang terjadi di berbagai belahan dunia. Di mana munculnya gelombang ketiga ini diperoleh dari varian delta.

WHO juga sudah mengingatkan terkait varian baru walaupun masih termasuk varian waspada. Namun, menurut Dokter Syahrizal, situasi ini bisa saja terjadi perubahan, antara kategori virus status waspada menjadi concern.

“Jadi sampai hari ini tidak ada satu ahli pun bahwa variant of interest (VOI) maupun variant of concern (VOC) tidak muncul lagi, tidak ada yang menyatakan. Situasi ini membuat kita dalam ketidakjelasan. Namun yang pasti virus Corona akan terus bermutasi dan kita dalam ancaman munculnya varian baru,” ujarnya, Kamis (23/9/21).

Kedua yang patut dipertimbangkan, yaitu masih rendahnya tingkat vaksinasi di Indonesia. Hingga saat ini, beliau menyebutkan baru 20% dari masyarakat Indonesia yang menjalani vaksinasi tingkat dua.

“Dengan kita baru mampu melakukan vaksinasi 20% itu masih patut dipertimbangkan untuk menyelenggarakan Muktamar. Jadi kalau kita ingin Desember, pemerintah berusaha agar jumlah vaksinasi bisa mencapai 50% sampai Desember, walaupun agak ragu,” imbuhnya.

Namun, jika hal ini pertimbangkan untuk bulan Maret 2022, maka Dokter Syahrizal merasa cukup yakin bahwa proporsi masyarakat yang mendapat Vaksinasi dua kali bisa mencapai 60%.

“Nah angka ini yang cukup memberikan kita kepercayaan, akan lebih aman daripada menyelenggarakan Muktamar pada bulan Desember,” ujarnya.

Masalah yang ketiga yang patut dipertimbangkan adalah peningkatan kurva. Berdasarkan situasi di negara Malaysia, Singapura, dan sebagainya yang baru saja mengalami penurunan kasus, Dokter Syahrizal menyampaikan, sebetulnya ada perkiraan gelombang tiga akan diperkirakan bulan Desember.

Selain itu, saat ini masyarakat berada dalam situasi yang sangat longgar. Tatap muka sudah dianjurkan, pergerakan masyarakat sudah sangat meningkat, daerah wisata dibuka.

Sehingga, dari berbagai pertimbangan, mulai dari vaksinasi, pola kemungkinan wabah, dan kelonggaran yang terjadi maka, Dokter Syahrizal mengatakan Muktamar akan lebih aman diselenggarakan bulan Maret 2022 dibanding bukan Desember 2921.

Namun demikian, beliau tetap berbalik akan menghormati seluruh keputusan peserta dan penyelenggara.

“Tentu semua berpulang pada penyelenggaraan dan peserta dan itu sangat saya hormati. Tentu saja penyelenggaraan Muktamar kita yng kita lakukan bisa menjadi pembelajaran yang baik untuk Muktamar, baik dan aman. Yang pasti, yang dicapai adalah Muktamar jangan sampai sumber adanya kluster baru menyebar ke seluruh Indonesia,” pungkasnya. (fbr)

Latest posts by Abdullah Faqihuddin Ulwan (see all)
Spread the love

Comment here