Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Nasional

Begini Penjelasan Kiai Said Tentang Perang Saudara di Timur Tengah

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr KH Said Aqil Siroj memulai sambutannya dengan menjelaskan tentang dinamika Islam di Timur Tengah. Beliau mengungkapkan bahwa perang saudara yang terjadi di Timur Tengah dikarenakan konflik budaya. Oleh karena itu Kiai Said mengingatkan umat Islam agar selalu menjaga keragaman budaya Indonesia dengan menerapkan Islam Wasathiyah, moderat, adil, berimbang, dan toleransi.

Berikut ini penjelasan Kiai Said yang dikutip dari NU Channel pada Rabu (30/12/20) pada acara Refleksi Dakwah Tahun 2020 untuk Indonesia Aman dan Damai yang diselenggarakan Lembaga Dakwah PBNU.

Ada seorang guru besar Harvard bidang ilmu politik, Samuel Watington menulis buku yang diterjemahkan tahun 1987 yaitu “The class of civilization”. Buku yang berisi ramalan atau prediksi setelah perang dingin antara barat dan timur dengan bubarnya Uni Soviet, bubarnya negara negara komunis maka akan terjadi konflik budaya, class civilization.

Konflik budaya ini artinya apa, akan terjadi peperangan bukan karena politik, bukan karena ekonomi, tapi karena suku dan agama dan budaya, ini ramalan prediksi tahun 1987.

Nah apakah yang terjadi di Timur Tengah ini alamiah atau direkayasa agar prediksi ini terbukti inilah mari kita lihat. Tapi saya cenderung melihat bahwa ini agar prediksi di Timur Tengah terjadi. Arab spring, Arab yang bangkit, yang dimulai dari Tunis kemudian sampai lari Sayyidina Abdin bin Ali, merambah ke Mesir, Mubarok terguling kemudian lari ke Libia,  Ahmad Kadafi terbunuh di gorong gorong, dan sekarang masih terjadi di Suriah terus berkecamuk, ISIS, konflik di Yaman, konflik di Irak, Afganistan, itu semua bukan karena politik bukan karena ekonomi tapi lebih karena perang antar kelompok di faktor budaya, suku, dan agama yang menjadikan mereka perang.

Bayangkan di Afganistan itu 100% muslim, suku hanya tujuh, perang saudara sudah 40 tahun, bukan karena politik bukan karena ekonomi, tapi jelas persaingan antar suku dengan mengatasnamakan Islam. Begitu Soviet menjajah Afghanistan, Amerika didukung oleh Saudi membentuk Al Qaida dengan biaya 400 juta dolar melawan Soviet mujtahidin bersatu melawan soviet.

Tetapi ketika Soviet lari, Afganistan tidak melanjutkan persatuannya justru diantara mereka sendiri perang saudara, setelah menang melawan Soviet. Soviet meninggalkan Afganistan tapi tidak menyatukan Afganistan.

Selain faktor internal juga by design direncanakan oleh pihak yang merencanakan. Begitu pula seperti yang terjadi di Tunis seorang penjual sayur yang miskin namanya Abu Zaid ia pidato unek unek di depan gedung parlemen tetapi tidak ada yang mendengarkan.

Ia mengadu kemiskinannya tetapi tidak ada yang melayani pidatonya. Ia putus asa dan menyiram dirinya dengan bensin dan membakar diri. Dimulai dari hal ini terjadi, demontrasi luar biasa sampai presiden terguling dan lari ke Jidah, kekayaannya dirampok. Inilah dimulai dari design bahwa perang bukan karena politik dan ekonomi

Kemudian Mesir, memang terasa kedzaliman sehingga terjadi demonstrasi. Mubarok terguling dan pindah ke Libia. Artinya di Timur Tengah antara budaya dan agama belum harmonis. Antara pemahaman agama dan pemahaman budaya belum harmonis. Agama seakan akan sendiri, budaya sendiri. Agama bersifat dari Allah, sakral, dan suci. Berisi aqidah dan syariah.

Budaya itu kreatifitas, kemajuan, dan kecerdasan manusia yang bersifat insaniyah, ijtidaiyah, waqiiyah. Agama yang bersifat doktrin atau ta’lim samawiyah dengan di Timur Tengah belum harmonis. Masih saling menunjukkan eksistensinya. Tokoh pejuang besar beliau pejuang muslim bukan nasionalis. Yang pejuang nasionalis melawan penjajah, mereka bukan pejuang Islam. Nah beda dengan di Indonesia

Hasyim Asyari muslim 100% nasionalis 100%. Ahmad Dahlan, KH Agus Salim juga seperti itu. Banyak ormas yang dipimpin oleh tokoh masyarakat yang muslim dan nasionalis. Sehingga pemahaman agama dan semangat nasionalis sudah harmonis. Tinggal mari kita memelihara agar menjadi agama yang bermartabat, religious, berakhlak, mempunyai jati diri, berkarakter, dan berkepribadian. Bukan hanya beriman tapi juga berakhlak. Syariat juga harus kuat.

Oleh karena itu, martabat bangsa sebuah bangsa dilihat dari akhlaknya, karakternya. Bukan bicara tauhid tapi akhlaknya. Hal ini ternyata benar, dilihat dari bangsa yang menurut kita teologinya tidak benar, Eropa, Jepang, Korea yang teologinya tidak benar tapi mereka maju bermartabat dan disegani oleh negara karena berkarakter dan memelihara budaya. Kita harus perhatikan. Iman kita betul, syariat dan aqidah benar. Yang sedang hancur akhlak kita, kepribadian, jati diri kita.

Belakangan ini tahun yang sangat prihatin karena seakan akan kita menjadi bangsa yang mundur lagi karena seharusnya permasalahan perbedaan agama perbedaan suku telah selesai di founding father kita. KH Hasyim Asyari mengatakan Indonesia adalah Darussalam tahun 1936 negara yang damai, negara yang aman. Perbedaan suku tidak masalah. Tahun akhir ini merosot lagi.

Seharusnya menjadi multikultural tetapi merosot lagi seakan akan perbedaan agama dipermasalahkan lagi padahal Al Quran telah jelas menerangkan untuk jangan mencaci maki nonmuslim jangan mencaci orang yang tidak menyembah Allah. Nanti mereka mencaci maki Allah. Maka kita menjadi bangsa yang saling caci maki. Setiap suku punya kebanggaan masing masing yang harus kita hormati. Itu dengan selain muslim. Apalagi dengan sesama muslim.

Jangan kamu dengarkan berita yang tersebar yang adu domba yang mulutnya kotor mencegah kebaikan menimbulkan permusuhan dan dosa besar. Maka akan ada saling fitnah dan menghancurkan umat Islam. Karena hal ini yang diharapkan oleh Umat Yahudi. Mari kita tunjukkan bahwa Indonesia tidak akan pecah walaupun terdiri dari berbagai suku dan berbagai agama.

Dalam muhasabah ini maka yang baik kita teruskan yang gagal kita tinggalkan. Yang keliru mari kita akui jangan menyalahkan orang lain. Kemudian harus yakin bahwa Allah akan merubah kita menjadi lebih baik. Jangan terlalu takut khawatir tapi harus optimis. Kesalahan harus kita perbaiki bersama sama. Pertemuan ini dimulai dengan muhasabah. (fqh)

Kontributor : Via Qurrotaaini
Editor: Faqih Ulwan

Spread the love

Comment here