Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

HikmahNasional

Begini Penjelasan Kiai Said Soal Akhlak

Jakarta, Dakwah NU
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj berbicara soal akhlak yang menurutnya dipandang suatu sikap atau tindakan untuk membangun hal yang baik secara bersama-sama.

Menurut Kiai lulusan Ummul Qura ini, akhlak bisa disimpul dalam satu kalimat. “Satu kata saja akhlak itu husnul muasyaroh bahasa arabnya. Membangun kebersamaan yang baik, udah itu prinsipnya akhlak itu,” kata Kiai Said.

Hal ini disampaikannya di sela-sela acara Penandatanganan MoU Kemenko PMK dengan PP Muhammadiyah, PBNU, Forum Rektor Indonesia dan PGRI, yang dilaksanakan secara daring, Kamis (12/11).

Baca juga : Kiai Said Sampaikan Dua Amanah yang Diberikan Allah Swt Hanya kepada Manusia

Jika diperinci, akhlak meliputi: tawadhu’, ikromul dhoif, ikromul jiron, iyadatul mardho, ziyadatul mauta, sabar, dan banyak lainnya. Semua itu terangkum dalam naungan Husnul Mu’asyarah yang dimaknai dengan membangun hubungan baik kepada sesama.

Seperti halnya hubungan orang tua dengan anak, dan sebaliknya; kiai dengan murid, dan sebaliknya; pemimpin kepada rakyatnya, begitu pula sebaliknya; dan seterusnya. Tanpa hubungan yang harmonis dan selaras, suatu peradaban belum mampu dikatakan berakhlakul karimah.

Buya-begitu ia disapa-menuturkan memang banyak definisi soal akhlak. Namun, semuanya bermuara pada konotasi kebaikan, dan hidup bersama-sama.

“Gimana caranya kita hidup ini bersama-sama membangun kehidupan yang baik, masyarakat yang baik. Mu’asyaroh, pergaulan, sinergi, gotong-royong yang baik. Inilah akhlak sebenarnya,” jelas Kiai Said dengan tegas.

Sehingga, menurut dia, sudah tuntas soal konsep akhlak. Di Indonesia sudah mapan. “Sudah tidak ada sekat antar suku, sudah gak ada masalah, di kantor, di ormas satu partai, di klaster perumahan, Jawa, Sunda, Batak, Dayak, Madura, Bugis tidak ada masalah,” tuturnya.

“Tinggal agama kadang masih ada masalah. Kalau suku sudah enggak ada masalah,” sambungnya.

Dia pun membandingan dengan Timur Tengah. Masih ada fanatisme kesukuan, dan masalah lainnya. Karenanya, saat ini, Indonesia mesti memperkuat lagi persatuan nasional supaya masyarakat tak terkoyak.

“Alhamdulillah kita udah selesai tinggal memelihara, memperkuat, meningkatkan lagi rasa persatuan kita,” kata Buya memungkas. (ahn)

Spread the love

Comment here

Dakwah Nusantara

Dakwah Ramah, Dakwahnya Ahlusunnah wal Jama'ah an-Nahdliyyah