Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Opini

Balasan untuk Tulisan Dokter Tifauzia

KH. Ade Muzaini Aziz

Balasan untuk Tulisan Dokter Tifauzia
(Jika benar itu tulisan Dokter Tifauzia)

Jakarta, Dakwah NU
Sekretaris Divisi Kajian Pengurus Lembaga Dakwah PBNU, KH. Ade Muzaini Azis, Lc, MA, memberikan tanggapan terhadap opini public berupa surat terbuka yang ditulis oleh Dokter Tifauzia, yang ditujukan kepada Para dokter dan nakes dan para orangtua yang memiliki anak nakes yang sudah menghubungi saya (Dokter Tifauzia) melalui whatssap, telpon, maupun inbox. Gus Zein, beliau biasa dipanggil mengirimkan tanggapan kepada dakwahnu.id, Minggu (10/21).

Tulisan Dr Tifauzia Tyassuma tersebut telah beredar luas di media sosial terutama di WAG. inti dari tulisan tersebut, Dr. Tifauzia tidak mau di vaksinasi dengan menggunakan vaksin inport. “Sekali lagi saya tegaskan di sini. Saya tidak Anti Vaksin. Tetapi saya tidak mau disuntik Vaksin selain Vaksin dari Virus Asli Indonesia, Vaksin yang dibuat oleh Bangsa Indonesia sendiri,” tulisnya.

Dr. Tifauzia adalah ahli epidemiologi, Mantan Direktur Eksekutif dari Clinical Epidemiology dan Evidence Based Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tersebut, mengusulkan di produksinya Vaksin Merah Putih, dia mengatakan “Pertanyaan saya: Kenapa Vaksin Merah Putih tidak disupport, didukung, disegerakan untuk jadi?,” tanyanya.

Opini tersebut mendapatkan perhatian dai muda alumni Al Azhar, beliau biasa diapnggil Gus Zein, Pengasuh Perguruan Al Muin, Poris Gaga, Tanggerang, Banten, bahwa;

  1. Dokter Tifauzia ini bagus. Sangat nampak dia cinta produk dalam negeri. Dia mendorong agar Indonesia segera memproduksi vaksin Covid-19 sendiri (vaksin Merah Putih). Bravo (emoji, jempol dan tangan dikepal)
  2. Tapi, nalar dokter ini juga kacau. Inti tulisan dia: Selama vaksin Merah-Putih belum diproduksi, jangan mau divaksinasi dengan vaksin-vaksin import apapun-manapun!!

Di mana letak kekacauan nalar Bu Dokter Tifa ini:
A. Apakah sikap Dokter Tifa juga se- keukeuh itu untuk barang-barang import lain yang mungkin ia miliki dan dia pakai sehari-hari? Contoh: Hape yang dia pakai sehari-hari, misalnya.

Jika semua barang yang ia miliki, pakai dan melekat pada dirinya sehari-hari sudah murni produk dalam negeri, baru dia sah bicara seperti itu. Pertebal kata murni, sehingga semua komponennya pun 100% harus produksi dalam negeri. Lalu bagaimana dengan pesawat yang sangat mungkin pernah, bahkan sering ia naiki?

Mau lebih mengerucut lagi?
Bagaimana dengan vaksin Meningitis produk import yang mungkin telah divaksinasi ke dalam tubuhnya sebelum ia pergi umroh/haji?

Sikap idealis Dokter Tifa ini patut kita apresiasi; di mana ia sangat ingin vaksin Merah Putih produksi dalam negeri segera terwujud. Tapi sikap naif dan paranoid Dokter ini –yang terlihat jelas sangat anti vaksin import– adalah bukan sikap realistis dan ilmiah. Di saat Pandemi masih dan semakin menunjukkan taring keganasannya, menggerus semua sektor (kesehatan, ekonomi, pendidikan dll), mengimport vaksin yang sudah diproduksi adalah Solusi. Tentu eksekusi vaksinasinya harus berdasarkan fatwa Halâlan dari MUI (sudah keluar fatwanya) dan fatwa Thoyyiban dari BPOM (masih dalam proses).

Bahkan, urusan hâlalan ini, ulama Mesir sudah mengeluarkan fatwa boleh menggunakan vaksin tidak halal dalam keadaan darurat. Fatwa ini sesuai dengan sederet kaidah fiqh.

Seperti juga ketika MUI pada 16 Juli 2009 mengeluarkan fatwa haram untuk vaksin Meningitis merk Mencevax ACW135Y produksi Belgia karena mengandung unsur babi. Tapi (ketika itu) MUI juga membolehkan penggunaan vaksin haram tersebut karena alasan darurat dan ketiadaan alternatif vaksin lain yang halal. Tepat setahun setelah itu (16 Juli 2010) baru MUI menyatakan bahwa fatwa membolehkan tersebut tidak berlaku lagi, karena sudah tersedia vaksin Meningitis merk Menveo Meningococcal dan merk Meningococcal yang dinyatakan halal. Dan kedua vaksin halal ini pun barang import.

Jadi, jiwa nasionalisme Dokter Tifa nampaknya adalah Nasionalisme Buta. Sangat sempit memaknai Nasionalisme dengan sikap anti luar negeri/barang import seperti itu. Sungguh makna Nasionalisme yang aneh, dan tentu jauh panggang dari api.

B. Dari seluruh paragraf yang ditulis oleh Dokter Tifa itu, sama sekali ia tidak menyuguhkan alasan/argumen ilmiah-medis, selain dari Nasionalisme Madzhab Aneh-nya tersebut.

Mengapa argumen ilmiah-medis menjadi penting? Karena ia seorang DOKTER. Saya tidak menuntut argumen ilmiah-medis jika dia seorang USTADZAH.

Apakah ia sedang memfabrikasi opini yang mendelegitimasi MUI dan BPOM dan ujung-ujungya Pemerintah??
Wallâhu A’alam. Hanya dirinya dan Tuhannya yang tahu.
Lalu, bagaimana baiknya?

Menurut saya:

  1. Ambillah harapan dan solusi terdekat dan tercepat. Vaksin import, Ok. Vaksin Merah-Putih pun Ok. Mana yang lebih cepat tersedia dan terjamin halâlan & thoyyiban nya, kita terima. Dalam keadaan darurat pun syarat halâlan dapat dikesampingkan untuk sementara waktu. Banyak kaidah fiqh yang mendasari sikap ini.
  2. Dorong terus Pemerintah kita untuk segera memproduksi massal vaksin buatan dalam negeri yang tentu juga harus halâlan-thoyyiban. Syukur-syukur nanti Indonesia justru bisa ekspor vaksin Covid-19, seperti vaksin Polio produk Indonesia yang sampai saat ini diimport oleh banyak negara dunia.

Terakhir, Gus Zein mengajak kita semua untuk senantiasa menjaga Jasmani kita agar tetap sehat, Ruhani kita agar selalu sehat, Nalar kita agar senantiasa sehat.

Kota Tangerang, 10 Januari 2021

Penulis:
KH. A. Muzaini Aziz, Lc, MA
Guru IQRO dan Pengurus Lembaga Dakwah PBNU

Abdus Saleh Radai
Latest posts by Abdus Saleh Radai (see all)
Spread the love

Comment here