Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Ajaran Islam Jauh Dari Radikalisme

“Bagi seorang muslim, terlebih lagi seorang tokoh yang menjadi panutan, tak dibenarkan menyeru pada khalayak untuk tidak mematuhi Pemimpin Negara ataupun jajaran dan aparatnya, kecuali jika pimimpin itu memerintahkan kemaksiatan”

Sejak dahulu sampai pada masa sekarang ini, serangkaian ucapan dan tindak kekerasan sering terjadi dibelahan dunia, dan sejak awal abad 20, sampai sekarang ini mulai marak diberbagai daerah ditanah air kita, terlebih lagi pada akhir abad ke 20 sampai sekarang. Akar2 penyebab yang memicu terjadinya kasus2 ucapan dan tindkan kekerasan tampak bervariasi, sesuai dengan kompleksitas variabel sosial yang melalatar belakanginya. Ada yang berlatar belakang etnis, ada yang bersifat politis dan ada pula yang berlatar belakang perbedaan aliran, khususnya dalam agama Islam.

Padahal sebagaimana diketahui, menurut bahasa, “Islam” itu berarti tunduk, patuh, pasrah, berserah diri dan damai. Dengan demikian, pola dasar dan katakteristik doktrin Islam adalah perintah Tuhan untuk mewujudkan perdamaian dan kedamaian dalam seluruh aspek tatanan dan kehidupan manusia. Dengan kata lain, pada dasarnya, watak dan misi Islam adalah anti kekerasan, sebagaimana yang diajarkan olehbjunjungan kita Muhammad sebagai Nabi akhir zaman. Bertolak dari prinsip doktrin humanis ini, maka segala bentuk ucapan maupun tindak kekerasan yang dilakukan kelompok2 muslim yang mengatasnamakan Islam, sebenarnya bertentangan dengan makna hakiki dan watak dasar serta misi damai Islam itu sendiri.

Islam juga merupakan agama dakwah yang menurut watak dasar dan naluri kodratnya, harus berkembang dan dikembangkan oleh para pemeluknya. Dalam menyiarkan Islam, Al Quran sebagaimana disebuntukan dalam Surat An Nahl 125 dan Ali Imran 159, menggariskan prinsip2 etika dakwah yang wajib ditempuh oleh seluruh umat Islam.

Memang, sejauh menyangkut sejarah perkembangan Islam, banyak contoh peristiwa kekerasan antar sesama golongan umat Islam, seperti pertentangan dalam perebutan kekuasaan politik antara Dinasti Umayah dan Dinasti Abbasiyah, yang sarat dengan tindakan2 kekerasan dari masing2 pihak.

Demikian pula hubungan antar umat beragama, kekerasan dan bahkan perang, juga terjadi, seperti perang Salib yang terjadi antara umat Kristen dan umat Islam dalam serangkaian gelombang yang panjang. Begitu pula umat Islam yang merupakan kelompok minoritas di India, pernah menjadi sasaran tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok mayoritas umat Hindu. Juga serangkaian perang dan kekerasan antara Israel dan Palestina sering muncul kepermukaan disebabkan oleh muatan sentimen politis, etnis dan nuansa keagamaan.

Setiap agama, pada prinsipnya merupakan kekuatan positif, yang mengajarkan perdamaian dan kedamaian, namun demikian, agama akan berubah menjadi kekuatan negatif, desintegratif dan destruktif apabila nilai2 posifif dari agama dikesampingkan karena lebih mengutamakan kepentingan2 diluar ajaran2 agama yang positif dan konstruktif.

Kita sering mendengar terjadinya serangkaian tindakan kekerasan yang diberi label suci agama atau atas nama misi suci yang dilakukan oleh sekelompok pemeluk agama tertentu. Mereka menggunakan agama hanya sebagai legitimasi atau pembenaran terhadap tindakan kekerasan dan serangan yang mereka lakukan. Padahal semestinya yang harus dilakukan oleh setiap kelompok pemeluk agama adalah melaksanakan secara konsisten nilai2 luhur dan positif ajaran2 agama yang mereka peluk dan menerapkan nilai2 luhur itu dalam hubungan intern mereka dan juga dalam hubungan dengan kelompok agama lain.

Itulah sebabnya, NU sebagai ormas Islam penganut setia ajaran Aswaja yang memiliki karakteristik moderat, senantiasa bersikap asih asah dan asuh, saling pengertian dan toleransi dikalangan intern umat beragama dan antar umat beragama agar tercipta tatanan kerukunan, perdamaian dan kedamaian bersama. NU dikenal sebagai sosok yang akomodatif. Sepanjang sejarahnya, Ormas Islam yang kini hampir berusia satu abad itu selalu menghindari perilaku2 yang mengarah kepada kekerasan.

Ketika pemberontakan DI/TII terhadap pemerintah meletus pada 1947, yang diwarnai dengan aksi2 kekerasan, NU sebagai organisasi, juga para pemimpin dan anggotanya, tidak terlibat. NU terus mendukung dan mempertahankan secara konstitusional tegaknya eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonedia.

Bahkan pada Konferensi Alim Ulama di Cipanas 1954, yang kemudian dikukuhkan dalam Muktamar ke 20 ditahun yang sama di Surabaya, NU telah memutuskan bahwa Presiden Negara Republik Indonesia ini dan alat-alat Negara, adalah Penguasa Pemerintah yang sah secara dharuri bisy- syaukah (darurat, sebab kekuasaannya). Sedangkan sebelum itu, yakni pada Muktamarnya ke 11 di Banjarmasin 1936, NU sebagai penganut Islam Aswaja, menyatakan bahwa Negara Indonesia ini dinamakan “Negara Islam” karena telah pernah dikuasai sepenuhnya oleh orang Islam meski pernah direbut oleh kaum penjajah non muslim.

Itu sebabnya, sejak Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk pada 1945 sampai sekarang ini, meski tak jarang pula melontarkan kritik, NU tak pernah terlibat melakukan pemberontakan terhadap penguasa Negara. Para ulama Aswaja sepakat bahwa barangsiapa menguasai sebuah negara, berarti ia adalah seorang pemimpin dalam hampir segala hal, sehingga dengan tidak adanya pemimpin disuatu negara, urusan kehidupan dunia tidak akan berjalan lancar. Pemimpin adalah orang yang mencurahkan waktunya untuk mengurus kepentingan rakyat dan kesejahteraan mereka serta menjauhkan marabahaya dari mereka.

Oleh karena itu, Negara harus dilindungi dan pemimpinnya harus dipatuhi oleh rakyatnya, kecuali jika pemimpin itu memerintahkan kemaksiatan, sebagaimana yang disabdakan Nabi ﷺ sbb: “Wajib atas setiap muslim mendengar dan mematuhi (Penguasa Pemerintahan), baik dalam hal yang ia senangi maupun yang ia benci, kecuali kalau ia diperintah (oleh penguasa itu) untuk sesuatu kemaksiatan. Apabila ia diperintah dengan suatu kemaksiatan, maka tidak boleh ia mendengarkan dan mematuhinya” (HR Bukhari – Muslim dari Ibnu Umar r.a).

Jadi, bagi seorang muslim, terlebih lagi seorang tokoh yang menjadi panutan, tak dibenarkan menyeru pada khalayak untuk tidak mematuhi Pemimpin Negara ataupun jajaran dan aparatnya, kecuali jika pimimpin itu memerintahkan kemaksiatan. Dalam keadaan pemimpin seperti ini, maka kita hanya dapat patuh dan taat kepada Allah ta’ala, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

Kemudian apabila dari rakyat ada yang tidak suka atas sebagian dari tindakan pemimpinnya, maka dalam salah satu hadisnya, Nabi ﷺ, memerintahkan mereka untuk bersabar. Apalagi masa jabatan Kepala Negara dalam sistem Demokrasi hanya beberapa tahun saja. Dalam hadisnya itu, Nabi melantunkan sabdanya: “Tidaklah seseorang keluar dari pemimpinnya (mencabut kepatuhannya) sejengkal saja, lalu ia meninggal, maka dia itu meninggal dalam keadaan jahiliyah” (HR Muslim dari Ibnu Abbas r.a.).

Penulis:
KH Busyrol Karim Abdul Mughni
Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Kediri

Spread the love

Comment here