Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

ArtikelSyiar Islam

ADZAN Yang OTENTIK

Belakangan viral, video pendek yang menggambarkan beberapa orang siap-siap shalat, dan muadzinnya mengumandangkan adzan dengan menambahkan redaksi hayya ‘ala al-jihad (mungkin mereka artikan, “Ayo pergi Perang”).

Nampaknya, persoalan adzan ini perlu didudukkan kembali sebagai bahan kajian dan koreksi seperlunya terhadap dugaan penyimpangan Adzan dari yang semestinya.

1. KESUNNAHAN ADZAN
Mengumandangkan adzan salah satunya disunahkan sebagai panggilan shalat Fardlu. Selain itu, adzan dikumandangkan untuk orang yang sedang ditimpa kesusahan, ketakutan, meredam orang marah, menghadapi orang atau hewan liar yang jelek perangainya, saat perang berkecamuk, kebakaran, menghadapi gangguan jin, dan mengantar seseorang hendak bepergian jauh untuk ibadah (misalnya pergi haji atau umroh).

Menurut sebagian ulama, adzan juga disunnahkan saat mayat diturunkan ke dalam kuburan, diqiyaskan dengan mengumandangkan adzan saat terlahir di dunia. Pendapat terakhir ini masih menjadi perdebatan, ditolak sebagian ulama yang lain .

2. PERUBAH REDAKSI ADZAN DALAM LINTASAN SEJARAH
Redaksi adzan ketika Rasulullah saw masih hidup, pernah mengalami penambahan, antara lain:

1. صلوا في بيوتكم

2. صلوا في رحالكم

Dua redaksi di atas dan redaksi lain yang semisal, ditambahkan karena terjadi hujan lebat atau cuaca sangat gelap, yang kala itu dinilai menyulitkan umat Islam pergi ke masjid, apalagi di waktu malam.

Menurut imam al-Syafi’I dan imam al-Bukhari, menambah redaksi adzan semacam ini (baik dibaca dalam rangkaian adzan atau setelah adzan) tidak dihukumi makruh, karena ada kemashlahatan .

Penambahan redaksi adzan setelah Rasulullah wafat, banyak dilakukan, antara lain orang-orang Syi’ah di Iran sekarang ini, dengan redaksi:

ﺣﻲ ﻋﻠﻰ ﺧﻴﺮ اﻟﻌﻤﻞ

Menurut mayoritas ulama Sunni, penambahan redaksi adzan semacam ini dihukumi makruh , meskipun maknanya baik. Apalagi menambahkan redaksi lain dalam Adzan yang konotasinya bisa menimbulkan fitnah dan membuka peluang terjadinya tindakan anarkis dalam situasi negara aman dan damai, misalnya menambahkan redaksi:

حي على الجهاد

Hukumnya tentu tidak sekedar makruh, bahkan bisa berubah menjadi haram (tergantung dampak madharatnya), apabila dengan penambahan redaksi semacam itu menimbulkan fitnah, kagaduhan, atau menciptakan suasana yang tidak nyaman dan tidak tenang dalam masyarakat yang heterogen dan dalam situasi negara yang damai, tidak ada peperangan.

Imam Al-Baihaqi berkata, “Tidak ada riwayat hadis yang shahih, penggunaan redaksi hayya ‘ala khair al-‘amal semacam ini (apalagi redaksi “hayya ‘ala al-jihad”) bersumber dari Nabi shalallahu alaihi wasallam. Kami –kata imam al-Baihaqi–tidak suka dengan tambahan redaksi dalam Adzan .

3. اﻟﺼﻼﺓ ﺧﻴﺮ ﻣﻦ اﻟﻨﻮﻡ

Redaksi semacam ini ditambahkan dalam adzan shalat Subuh untuk mengingatkan umat Islam tentang kewajiban shalat Subuh, jangan sampai dikalahkan dengan tidur, kebablasan, apalagi sampai waktu shalat Subuh terlewatkan.

Penulis:
Dr. KH. Fuad Thohari, MA
Pengurus Lembaga Dakwah PBNU
Komisi Fatwa MUI Pusat

Spread the love

Comment here