Dakwah NUsantara

Merupakan Sebuah Media Lembaga PBNU yang bergerak di bidang dakwah untuk mensyi'arkan Islam Ahlus Sunnah Wal Jama'ah. sebuah portal berita yang mensyi'arkan Dakwah yang Ramah serta menyajikan informasi yang menarik bagi Da'i Seluruh Indonesia dan Dunia.

Artikel

Adab Rasulullah Menahan Amarah

Jakarta, Dakwah NU
Dahulu, di Madinah, hidup seorang Yahudi kaya raya bernama Zayb bin Suna. Kekayaannya yang melimpah tersohor ke seantero kota. Karena kekayaan itu pulalah, banyak orang yang terdesak secara ekonomi sering menemuinya untuk meminjam uang.

Namun, Zayd bukanlah orang kaya yang baik. Ia dikenal sebagai orang kaya yang tamak. Ia adalah seorang rentenir yang keji lagi kasar. Bahkan, ia suka berlaku kasar kepada penghutang yang telat atau bahkan tidak mampu membayar hutangnya.

Hingga suatu ketika, Zayd mendengar kabar tentang kepopuleran dan kebijaksanaan Rasulullah ﷺ. Banyak orang di sekitarnya sering membahas tentang kedermawanan dan sikap mulia dari Rasulullah ﷺ. Tidak hanya itu, Zayd juga mendengar bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah sekalipun marah apalagi bersikap kasar.

Saking penasarannya, Zayd pun menemui Rasulullah ﷺ. Dia ingin menguji seberapa baik kah orang yang dielu-elukan oleh penduduk Madinah ini.

Kala itu, Rasulullah ﷺ sedang dalam kondisi sulit, hingga beliau ﷺ terpaksa berhutang. Karena mengetahui Rasulullah ﷺ membutuhkan pinjaman,  Zayd pun meminjamkan 80 mithqal (350 gram) emas kepada Rasulullah ﷺ. Sesuai kesepakatan, Rasulullah ﷺ harus mengembalikan pinjaman tersebut dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Nahas, kesepatakan itu tidak ditepati oleh Zayd. Tiga hari sebelum jatuh tempo pembayaran, Zayd mendatangi Rasulullah ﷺ untuk menagih hutang.

Datanglah Zayd menemui Rasulullah ﷺ yang saat itu sedang  duduk dan berdiskusi dengan Umar bin Khattab ra. dan beberapa sahabat dari kalangan Ansar lainnya.

Tanpa basa-basi Zayd langsung menarik kerah jubah Rasulullah ﷺ dengan kasar, sampai membuat kulit leher beliau ﷺ memerah.

Rasulullah ﷺ sontak terkejut, tetapi tidak melakukan perlawanan. Beliau ﷺ tampak tenang dan santai.

“Hai Muhammad, mengapa kamu tidak melunasi hutangmu? Padahal semua orang di sini tahu bahwa kamu dan semua keluargamu mampu melunasinya. Sekarang semua orang akan mengenalmu sebagai orang yang suka menunda-nunda hutang,” hardik Zayd sambil mencengkeram kerah jubah Rasulullah ﷺ.

Melihat tindakan Zayd yang kasar dan tidak beradab kepada Rasulullah ﷺ, para sahabat terutama Umar ra. murka dan marah. Bahkan, Umar ra. telah menghunus pedangnya bersiap menebas Zayd.

Melihat Umar ra. yang sangat marah, Zayd melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah jubah Rasulullah ﷺ. Mendapati Zayd yang ketakutan, Rasulullah ﷺ segera menenangkan situasi sembari menatap Umar ra. dengan senyum, pertanda Rasulullah ﷺ meminta Umar ra. jangan marah.

“Umar, kamu tidak perlu berbuat seperti itu. Pergilah bersamanya, lunasi piutangnya dan beri dia 20 sha’ (32 kg) kurma sebagai tambahan karena kamu telah membuatnya takut,” ucap Rasulullah ﷺ.

Segera Umar ra. menurunkan pedangnya, lalu meminta Zayd untuk mengikutinya ke rumah.

Di tengah jalan menuju rumah, Zayd berkata kepada Umar ra.

“Hai Umar, ketika aku melihat wajah Muhammad, aku telah melihat tanda-tanda kenabian darinya. Hanya saja, sikapku tadi ingin mengujinya,” ucap Zayd.

“Kenapa demikian,” tanya Umar ra.

“Ada dua hal yang perlu kuyakinkan. Pertama, bagaimana cara ia mengendalikan amarahnya. Kedua, bagaimana cara ia bersabar dalam menghadapi semua pelecehan yang ia terima,” ucap Zayd.

“Jadi tadi kamu hanya menguji beliau ﷺ?” tanya Umar ra. meyakinkan.

“Benar, aku hanya mengujinya. Sekarang aku benar-benar menerima Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, Muhammad ﷺ sebagai Nabiku, dan setengah kekayaanku adalah sedekahku bagi umat Rasulullah ﷺ,” jelas Zayd.

~Setengah pasukan setan adalah nafsu, setengahnya lagi adalah amarah (Imam Al-Ghazali).

Referensi: HR. Ibnu Hibban no. 288, Al-Baihaqi no. 11066, dan Al-Hakim no. 6547.

Penulis:
Tim Kesan
Kedaulatan Santri

Spread the love

Comment here